Page 36 - index
P. 36
Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer
mampu memahami sifat kapitalisme; (2) kelas borjuis, kelas ini mampu
mengembangkan kesadaran kelas, tetapi hanya memahami perkem-
bangan kapitalisme sebagai sesuatu yang eksternal, tunduk pada hukum
objektif dan pasif; (3) kelas proletar, mempunyai kemampuan untuk
mengembangkan kesadaran kelas yang sebenarnya, untuk digunakan
(melawan borjuis). Lukacs menolak anggapan bila kesadaran kelas pro-
letar digerakkan oleh kekuatan eksternal, tetapi memandang kelas pro-
Prenada Media Group
letar sebagai pencipta aktif nasibnya sendiri.
Dalam konfrontasi kelas, kelas borjuis memiliki semua senjata in-
telektual dan organisasional. Kelas proletar memahami masyarakat se-
bagaimana adanya sehingga berubah dari “kelas dalam dirinya sendiri”
menjadi “kelas untuk dirinya sendiri.” Perjuangan kelas proletar diting-
katkan dari tuntutan ekonomi ke tingkat kesadaran kelas yang efektif
dan menyadari tujuan yang hendak dicapai.
Teoretikus Marxisme Hegelitan yang populer selain Georg Lukacs
yakni Antonio Gramsci. Gramsci, seperti Lukacs, berfokus pada ide-ide
kolektif ketimbang struktur sosial seperti ekonomi, dan kedua nya ber-
operasi di dalam teori Marxian tradisional (Ritzer, 2012: 476).
Konsep hegemoni merupakan sumbangan utama Gramsci terhadap
teori politik dan bersumber dari revisinya terhadap Marxisme Ortodoks
yang dinilai terlalu deterministik, positivistik, dan mekanistik. Bagi
Gramsci, hegemoni akan tetap berlangsung apabila cara hidup, cara ber-
pikir dan pandangan pemikiran masyarakat bawah, termasuk golongan
kaum proletar telah meniru dan menerima cara berpikir dan gaya hidup
dari kelompok elite yang mendominasi dan mengeksploitasi mereka.
Hegemoni, di mata Gramsci akan melahirkan kepatuhan: suatu sikap
yang menerima keadaan, tanpa mempertanyakan lebih lanjut secara
kritis, karena mereka menelan mentah-mentah ideologi yang diekspos
kaum borjuis. Dengan menawarkan dan mengembangkan teorinya ten-
tang hegemoni, Gramsci tidak sekadar memperlihatkan perbedaan posi-
si penjelasan Teoretisnya dengan Marxisme Ortodoks, tetapi lebih jauh
ia juga menawarkan jalan keluar yang sifatnya praksis dan taktis dalam
rangka melahirkan revolusi baru yang menentang hegemoni kaum bor-
juis (Suyanto & Amal, 2011: 21-60).
Gramsci yang menyebut Marxisme sebagai ilsafat praksis, menge-
24

