Page 34 - index
P. 34
Metode Penelitian Sosial
menjadi faktor ekonomis dan politis yang krusial pada masa kapitalisme
akhir yang mampu mengalihkan perhatian orang dari masalah yang
sebenarnya mereka alami, menawarkan solusi palsu yang diproyeksikan
ke dalam “kehidupan” karakter fiktif dan terkodekan ke dalam harmoni
musik, cerita film, atau buku (Agger, 2003: 184).
Menurut perspektif cultural studies, kegiatan konsumsi selalu lebih
dari sekadar aktivitas ekonomi, mengonsumsi produk atau menggunakan
komoditas untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan material, tetapi lebih
dari itu aktivitas ini juga berhubungan dengan mimpi, hasrat, identitas
dan komunikasi atau dalam istilah culture studies disebut bagian dari
budaya pop. (Storey, 2007: 169) Bagi orang per orang, aktivitas budaya dan
PRENADAMEDIA GROUP
produk budaya adalah dua hal yang bersifat mendua: di satu sisi terjadi
seragamisasi, tetapi di saat yang sama juga menjadi bagian dari wilayah
private orang per orang yang tidak selalu harus sama seperti yang lain.
Komoditas-komoditas yang dihasilkan industri budaya, secara
umum memang diarahkan oleh kebutuhan untuk menyadari nilainya
di pasaran. Motif keuntungan menentukan sifat berbagai bentuk
budaya. Secara industrial, produksi budaya merupakan sebuah proses
standardisasi di mana produk-produk tersebut mendapatkan bentuk
yang sama pada semua komoditas. Akan tetapi, produksi budaya itu juga
menganugrrahkan suatu rasa individualitas dalam artian bahwa setiap
produk memengaruhi “suasana individual”. Perekatan individualitas
pada setiap produk budaya ini, dan juga tentunya pada setiap konsumen,
berfungsi untuk menggaburkan standardisasi dan manipulasi kesadaran
yang dipraktikkan oleh industri budaya. Ini berarti semakin banyak
produk kultural yang distandarisasi, di saat yang sama semakin banyak
pula yang diindividualisasikan. (Strinati, 2007: 70)
FOKUS II: GAYA HIDUP
Dalam kajian cultural studies, sebuah aktivitas ekonomi dan sosial
sering kali dipahami sebagai dua hal yang tak terpisahkan. Perilaku
seseorang membeli, mengonsumsi produk budaya dan memanfaatkannya,
selain dipengaruhi berbagai faktor sosial: kelas, perbedaan usia, gender,
dan lain-lain, yang tak kalah penting perilaku konsumsi acap kali juga
dipengaruhi dan dibentuk oleh gaya hidup. Yang dimaksud gaya hidup di
sini adalah adaptasi aktif individu terhadap kondisi sosial dalam rangka
memenuhi kebutuhan untuk menyatu dan bersosialisasi dengan orang lain.
246

