Page 32 - index
P. 32
Metode Penelitian Sosial
industri budaya untuk pasar massal. (Strinati, 2007: 12) Tujuan produksi
budaya massa, seperti dikatakan Adorno (1991) sudah barang tentu adalah
keuntungan. Industri budaya adalah salah satu wujud yang tersusun dari
banyak bentuk produksi budaya komersial: praktik keseluruhan industri
budaya mentransfer terang-terangan motif laba ke dalam bentuk-bentuk
budaya. (Lawrence & Phillips, 2002)
Untuk alasan komersialisasi, di mata kekuatan kapitalisme tidak hanya
produk budaya yang perlu distandarisasi berdasarkan kategori-kategori
instrumentalistik, bahkan selera dan cita rasa masyarakat pun dikemas
dan dikonstruksi menurut logika pasar. Arus industri kebudayaan yang
bertumpu pada pasar ini, dan atas nama segmentasi pasar, lantas ikut
PRENADAMEDIA GROUP
mengaburkan batas-batas perbedaan kelas, wilayah, profesi, dan berbagai
kemajemukan yang ada dalam masyarakat. (Ibrahim (ed.), 2005: xx).
Siapa pun, ketika menjadi sasaran iklan dan ditawari berbagai produk
budaya populer, maka ia cenderung tak kuasa untuk menolak.
Dengan didukung teknologi informasi dan kekuatan media massa,
proses massalisasi produk budaya yang ditawarkan kekuatan kapitalisme
memang sulit ditolak. Keberhasilan industri kebudayaan, diakui atau
tidak memang amat tergantung pada media massa. Di era global seperti
sekarang ini, media massa sendiri telah tumbuh menjadi informasi
yang tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi,
tetapi mengikuti standar dan logika yang hidup dalam industri budaya
kapitalisme. Ia tidak hanya memoles produk budaya, tetapi dengan
produk budaya itu lantas mengkonstruksi selera, cita rasa dan bawah sadar
khalayak. Dan, sebagai output media yang penting adalah kebudayaan
pop. (Ibrahim (ed.), 2005: xxi)
Para pengkaji budaya Marxis sering kali mencoba memahami berbagai
proses perubahan budaya yang terjadi, seperti kapitalisme cepat, budaya
promosional atau budaya media yang intensitas persentuhannya ke
masyarakat cenderung makin intensif. Media elektronik secara dramatis
mempercepat dan mengintensifkan produksi dan distribusi ideologi,
yang tidak dapat dipertimbangkan secara hati-hati, baris per baris,
namun dibaca secara cepat, bergerak dari pertunjukan ke pertunjukan,
sehingga menyembunyikan kesan bahwa yang ditayangkan televisi atau
apa yang dipaparkan di media massa bukanlah teks, melainkan dunia
yang dipresentasikan tanpa bias.
Teoretisi budaya Marxis memperlakukan budaya, seperti televisi,
244

