Page 30 - index
P. 30

Metode Penelitian Sosial


                           Baudrillard, mencirikan masyarakat konsumer sebagai masyarakat yang
                           di dalamnya terjadi pergeseran logika dalam konsumsi, yaitu dari logika
                           kebutuhan menuju logika hasrat, yaitu bagaimana konsumsi, termasuk
                           membaca menjadi pemenuhan akan tanda-tanda. Dengan kata lain
                           orang, tidak lagi mengonsumsi nilai guna produk, tetapi nilai tandanya.
                           (Piliang, dalam: Adlin, 2006: 398)

                               Di lingkungan masyarakat modern dan didominasi kekuatan
                           kapitalisme, Mazhab Frankfurt meyakini bahwa masyarakat mengonsumsi
                           produk-produk budaya umumnya tidak didorong karena kebutuhan,
                           tetapi lebih disebabkan oleh konstruksi dan logika hasrat yang dibentuk
                           oleh daya tarik budaya populer. Seperti dikatakan Adorno, kita hidup
                                    PRENADAMEDIA GROUP
                           dalam suatu masyarakat komoditas, yakni masyarakat yang di dalamnya
                           berlangsung produksi barang-barang, bukan terutama bagi pemuasan
                           keinginan dan kebutuhan manusia, tetapi demi profit atau keuntungan.
                           Dalam pandangan Adorno, kebutuhan manusia terpuaskan hanya secara
                           insidental, namun hal itu tidak mudah dihindari karena batas dan
                           perbedaan antara  realitas dan simulasi kenyataan yang dibentuk iklan
                           dan media massa menjadi makin baur. (Lihat: Ibrahim (ed.), 2005: xxiv;
                           Agger, 2003: 284)
                               Lebih daripada jenis produksi lainnya, industri budaya terlibat di
                           dalam pembuatan dan peredaran produk budaya, yaitu teks yang memiliki
                           pengaruh pada pemahaman manusia akan dunia. Manusia terpengaruh
                           oleh teks-teks informasional, seperti surat kabar, program siaran berita,
                           dokumentasi dan buku-buku analitikal, dan juga oleh hiburan. Film,
                           serial TV, musik, buku bacaan, video game, dan lain sebagainya memberi
                           manusia gambaran dunia sekaligus tindakan semacam pelaporan. Lebih
                           penting lagi, semua itu membantu manusia membentuk  inner-nya,
                           kehidupan pribadi dan kehidupan publik: fantasi, emosi, dan identitas
                           sosial. (Hesmondhalgh, 2007)

                               Industri budaya, menurut mazhab Frankfurt, membentuk selera dan
                           kecenderungan massa, sehingga mencetak kesadaran mereka dengan
                           cara menanamkan keinginan mereka atas kebutuhan-kebutuhan palsu.
                           Dua ciri utama yang menandai industri budaya adalah standardisasi
                           dan individualisme semu. Seperti dikatakan Adorno dan Horkheimer
                           (1979), bahwa produk budaya adalah komoditas yang dihasilkan oleh
                           industri budaya yang meski demokratis, individualis dan beragam, namun
                           pada kenyataannya otoriter, konformis, dan sangat terstandarisasikan:
                           merupakan kultur kapitalis yang seolah menawarkan keberagaman tapi

                       242
   25   26   27   28   29   30   31   32   33   34   35