Page 29 - index
P. 29

Bab 20: Perspektif Cultural Studies: Fokus ...


                               Selain Marxis, teori lain yang banyak memberi warna pada perspektif
                           cultural studies adalah mazhab Frankfurt, dan teori-teori Postmodernisme.
                           Mazhab Frankfurt banyak menyumbang berbagai pemikiran tentang
                           dampak perkembangan industri budaya dan hegemoni yang dikonstruk
                           oleh kekuatan kapitalisme, sedangkan Postmodernisme lebih jauh
                           mencoba mengkaji apa terjadi pada dan di balik kehidupan masyarakat
                           postmodern: menawarkan intermediasi daripada determinasi, perbedaan
                           (diversity) daripada persatuan (utility), dan kompleksitas daripada
                           simplifikasi (Rosenau, 1992, dalam: Ritzer, 2003: 20).

                               Baudrillard, adalah salah satu tokoh yang mengembangkan perspektif
                           tentang Postmodernitas yang memadukan aspek teori Postmodern Perancis
                                    PRENADAMEDIA GROUP
                           dan Teori Kritis Jerman. Pandangan Baudrillard tentang masyarakat
                           simulasi dan hiperrealitas menyediakan dasar bagi cultural studies
                           yang tergabung dalam teori sosial kritis. Baudrillard menyatakan bahwa
                           postmodernitas bergerak di atas mode produksi ke dalam mode simulasi
                           dan informasi yang menyingkirkan proses kekuasaan dari semata-mata
                           produksi menjadi informasi dan hiburan. (Agger, 2003: 284)
                               Dari berbagai kajian yang telah dilakukan, para penganut perspektif
                           cultural studies umumnya sepakat bahwa di era masyarakat modern atau
                           postmodern, peran informasi menjadi sangat strategis, terutama dalam
                           membentuk gaya hidup, selera, dan juga cita rasa melalui iklan dan
                           berbagai media massa. (Lihat: Agger, 2003; Strinati, 2007; Storey, 2007)
                           Berbagai momen budaya, seperti produksi, representasi, identitas dan
                           konsumsi, tidak dilihat sebagai momen yang terpisah-pisah, tetapi saling
                           terkait (interkoneksi) dan saling tergantung (interdepedensi). Sekadar
                           contoh: ketika di masyarakat booming buku Harry Potter, misalnya,
                           maka yang terjadi adalah bagaimana kekuatan kapital bekerja sama
                           dengan teknologi informasi serta iklan dan pasar bukan hanya mencetak
                           puluhan juta buku serial Harry Potter, tetapi juga film yang spektakuler,
                           asesori, pakaian, dompet, boneka, program wawancara di televisi, berita
                           di majalah dan tabloit, dan lain sebagainya sebagai satu paket produk
                           industri budaya yang memasyarakat. (lihat: Mudji Sutrisno (ed.), 2007)


                           FOKUS I: PRODUK INDUSTRI BUDAYA

                               Perubahan sosial paling mendasar di abad globalisasi seperti sekarang
                           ini, tak lain dan tak bukan adalah perubahan ke arah masyarakat konsumer,
                           yang menciptakan budaya konsumer dan gaya hidup konsumerisme. Jean


                                                                                                  241
   24   25   26   27   28   29   30   31   32   33   34