Page 31 - index
P. 31

Bab 20: Perspektif Cultural Studies: Fokus ...


                           sebetulnya menghemoni (Barker, 2004: 47). Yang dimaksud kultur
                           kapitalis di sini, tak lain merupakan bentuk manipulasi dan penguasaan,
                           yang secara total meresapi struktur psikis dan sosial. (Beilharz, 2002: 147)
                           Konstruksi, selera, dan juga cita rasa masyarakat, termasuk terhadap buku
                           bacaan, biasanya tanpa sadar akan terbentuk dan dibentuk oleh kekuatan
                           pasar, sehingga yang terjadi adalah hegemoni budaya dan konsumsi.

                               Di era pasar global yang didominasi kekuatan kapitalisme, sifat ka-
                           pita lisme akan membawa masyarakat menjadi massa, artinya masyarakat
                           dilebur dari batas-batas tradisionalnya menjadi satu masif konsumsi
                           (Sunardi, dalam: Strinati, 2007: xv). Ketika persaingan antar-kekuatan
                           kapital makin ketat dan masing-masing berusaha mencari ceruk pasar
                                    PRENADAMEDIA GROUP
                           baru dan berusaha memaksimalkan produksi serta keuntungan, maka
                           yang terjadi adalah bagaimana mereka mencari peluang pasar secara
                           terus-menerus, merawat loyalitas pelanggan, dan mencoba menawarkan
                           produk-produk, termasuk produk budaya secara masif.

                               Dalam masyarakat konsumer, permassalan produk (massification
                           of product) budaya adalah salah satu perkembangan penting dalam
                           revolusi industri. Dengan proses tersebut, barang diproduksi dalam
                           jumlah besar (large-scale product) dan dengan biaya yang lebih rendah
                           (minimization of cost). Barang-barang yang diproduksi dalam jumlah
                           besar ini kemudian menuntut standardisasi (standardization), sehingga
                           dengan cara ini selera massal bisa dinetralkan sampai batas-batas yang
                           memuaskan semua lapisan dalam masyarakat. Atas desakan standardisasi
                           produk yang diperuntukkan bagi sejumlah besar massa itulah, muncul
                           alasan kuat untuk menyeragamkan produk budaya. Dilihat dari kacamata
                           ini, penyeragaman produk budaya adalah awal dari logika industri
                           kebudayaan yang berkembang sebagai proyek penyeragaman selera dan
                           cita rasa (homogenization of taste). (Ibrahim (ed.), 2005: xix).

                               Di era kapitalisme, kebudayaan dapat diproduksi secara tak terbatas,
                           terutama karena didukung perkembangan teknik-teknik produksi industri
                           dan teknologi informasi yang masif, sehingga pada titik tertentu terjadilah
                           proses komersialisasi kebudayaan. (Lihat: Strinati, 2007: 5). Berbeda
                           dengan pengertian budaya sebagai kultur adiluhung atau tradisi yang
                           acap kali mengacu pada tata nilai dan norma sosial dan keagamaan, dalam
                           masyarakat kapitalisme yang dimaksud budaya adalah budaya populer
                           atau budaya pop yang dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi
                           masa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan  kepada khalayak
                           konsumen massa. Budaya massa adalah budaya populer, yang diproduksi

                                                                                                 243
   26   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36