Page 37 - index
P. 37

Bab 20: Perspektif Cultural Studies: Fokus ...


                           109). Pierre Bourdieu (1984), menyatakan bahwa konsumsi budaya
                           cenderung, sadar dan disengaja atau tidak, mengisi suatu fungsi sosial
                           berupa melegitimasi perbedaan-perbedaan sosial (Storey, 2007: 145).
                           Konsumsi adalah suatu proses perubahan yang secara historis dikonstruksi
                           secara sosial. Gagasan bahwa konsumsi telah menjadi fokus utama
                           kehidupan sosial dan nilai-nilai kultural mendasari gagasan lebih umum
                           dari perkembangan kajian tentang masyarakat dan budaya konsumen.

                               Beberapa kritikus memandang pengadopsian gaya hidup tertentu
                           oleh orang banyak sebagai indikasi dari masifikasi, yakni pemassalan
                           yang disebabkan oleh ketidakmampuan mereka menemukan jati dirinya.
                           Sementara itu, beberapa yang lain menilai gejala penularan gaya hidup
                                    PRENADAMEDIA GROUP
                           sebagai keberhasilan kapitalisme memengaruhi para konsumennya untuk
                           menggunakan produk-produk massal demi keuntungan para kapitalis
                           sebagai produsen. (Adlin (ed.), 2006: 37). Masyarakat konsumen, menurut
                           perspektif cultural studies sering kali memang diyakini tumbuh karena
                           didorong ideologi konsumerisme, terutama melalui pencitraan yang
                           dimasyarakatkan lewat kekuatan iklan: sugesti bahwa makna kehidupan
                           harus kita temukan pada apa yang kita konsumsi, bukan pada apa yang
                           kita hasilkan.
                               Di era globalisasi informasi, berbagai kajian memang telah mem-
                           buktikan bahwa yang berperan besar membentuk gaya hidup: budaya
                           citra (image culture) dan budaya cita rasa (taste culture) adalah gempuran
                           iklan yang menawarkan gaya visual yang kadang-kadang memesona dan
                           memabukkan. Iklan merepresentasikan gaya hidup dengan menanamkan
                           secara halus arti penting citra diri untuk tampil di muka publik. Iklan
                           juga perlahan tapi pasti memengaruhi pilihan cita rasa yang kita buat,
                           terutama ketika kita terlibat dalam pergaulan dan relasi sosial dengan
                           orang atau kelompok lain. (Ibrahim, dalam: Chaney, 2004: 19)

                               Herbert Mercuse (1968), menyatakan bahwa iklan akan mendorong
                           tumbuhnya kebutuhan palsu, menyebabkan orang berkeinginan untuk
                           menjadi orang tertentu, semisal: dalam cara berpakaian, selera bermusik,
                           termasuk pemilihan bahan bacaan yang disukai. (Storey, 2007: 145).
                           Di era masyarakat kapitalisme, kegiatan produksi, distribusi dan iklan
                           jelas merupakan bagian dari industri budaya (culture industry) masa
                           kini yang penting, akan tetapi kegiatan ini juga sangat tergantung pada
                           industri-industri lainnya seperti komunikasi massa dan hiburan massa.
                               Dalam iklan, tanda-tanda digunakan secara aktif dan dinamis, sehingga



                                                                                                 249
   32   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42