Page 36 - index
P. 36

Metode Penelitian Sosial


                           medium dan ruang untuk mengekspresikan makna tersebut, yaitu ruang
                           bahasa dan benda-benda, yang di dalamnya citra mempunyai peran yang
                           sangat sentral. Di pihak lain, citra sebagai sebuah kategori di dalam relasi
                           simbolik di antara manusia dan dunia objek, membutuhkan aktualisasi
                           dirinya ke dalam berbagai dunia realitas, termasuk gaya hidup.
                               Seseorang yang memutuskan untuk membeli sebuah produk
                           kecantikan, handphone, atau yang lain, apakah ia melakukan karena
                           semata didorong kebutuhan untuk membelanjakan uangnya, ataukah
                           lebih didorong keinginan untuk membuktikan bahwa ia tidak ketinggalan
                           zaman? Ketika seseorang mengonsumsi sesuatu, bukan sekadar karena
                           ingin membeli fungsi pertama atau fungsi inheren dari produk yang
                                    PRENADAMEDIA GROUP
                           dibelinya itu, tetapi sebetulnya ia juga berkeinginan untuk membeli
                           fungsi sosial yang lain yang disebut Adorno (1960) sebagai ersatz, nilai
                           pakai kedua sebuah produk. (Lihat: evers, 1988). Artinya, seseorang
                           membeli sesuatu, tidak selalu karena ia membutuhkan barang itu,
                           tetapi bisa juga karena didorong tujuan-tujuan sosial yang lain: prestise,
                           kepentingan untuk memperoleh modal sosial sebagai tiket menjalin relasi
                           dengan peer-group-nya, dan lain sebagainya. Seperti dikatakan Adorno,
                           bahwa komodifikasi budaya atau kebudayaan yang diindustrialisasikan
                           yang dirancang berdasarkan kalkulasi-kalkulasi keuntungan hanya akan
                           menghasilkan penipuan massa. (Lihat: Ibrahim (ed.), 2004: 328). Di era
                           kapitalisme akhir, membeli barang sesungguhnya juga berarti membeli
                           kesan dan pengalaman, dan kegiatan berbelanja bukan lagi suatu transaksi
                           ekonomi sederhana, melainkan lebih merupakan interaksi simbolis di
                           mana individu membeli dan mengonsumsi kesan.
                               Gaya hidup selalu berkaitan dengan upaya untuk membuat diri eksis
                           dalam cara tertentu dan berbeda dari kelompok lain. Di sini ada suatu
                           perilaku konsumsi yang merupakan imbas postmodern, di mana orang
                           berada dalam kondisi selalu dahaga, dan tak terpuaskan. Suatu pola
                           konsumsi yang dengan cerdik dibangkitkan oleh produsen, gatekeeper,
                           melalui pencitraan yang menjadi titik sentral sebagai perumus hubungan.
                           Citra kemudian menjadi bahasa komunikasi sosial di dalam masyarakat
                           konsumen, yang di dalamnya telah diciptakan klasifikasi dan perbedaan
                           sosial menurut kelas, status, dan selera. Di sini konsumen dikonstruksi
                           untuk membeli citra ketimbang produk: citra yang mampu membuat
                           tampak berbeda dan mengalami kebernilaian dalam keberbedaan itu.
                           Dalam istilah pemasaran hal ini biasanya dikonseptualisasikan dalam
                           strategi  positioning dan diferensiasi (Audifax, dalam: Adlin, 2006:


                       248
   31   32   33   34   35   36   37   38   39   40   41