Page 33 - index
P. 33

Bab 20: Perspektif Cultural Studies: Fokus ...


                           media massa, film, iklan dan buku sebagai wilayah ekonomis dan ideologis,
                           yang melibatkan kesadaran, wacana, dan konsumsi. Mereka sepakat dengan
                           Marx bahwa kapitalisme membutuhkan ideologi dalam menciptakan
                           kesadaran palsu, sehingga orang tidak dapat mengenali ketidakadilan
                           sejati kapitalisme. Namun, yang agak sedikit berbeda adalah mereka
                           beranggapan bahwa masyarakat tidak dapat lagi menunda pembebasan
                           sampai kehidupan setelah mati dan mengabaikan kepuasan duniawi.
                           Manusia harus menyediakan tempat bagi kebahagiaan individual, baik
                           yang bersifat  okupasional (kerja) maupun rekreasional. Ideologi, dalam hal
                           ini produk-produk budaya kapitalis harus menjanjikan relaksasi manusia
                           yang tengah berada di bawah tekanan yang pernah memerintah kehidupan
                                    PRENADAMEDIA GROUP
                           personal dan publik mereka. Ideologi, harus memberikan kemungkinan
                           kepada masyarakat dalam mengalami desublimasi. (Agger, 2003: 251)
                               Salah satu ciri yang menonjol dari produk budaya massa adalah
                           ta waran kesenangan, fantasi, dan menghibur. Terlepas, apakah budaya
                           pop adalah budaya komersial dampak dari produksi massal, tetapi budaya
                           pop pada dasarnya merupakan budaya yang menyenangkan dan banyak
                           disukai orang karena cirinya yang menghibur, menyenangkan, dan mampu
                           mengembangkan imajinasi. Sebagai bagian dari budaya massa, budaya
                           pop acap kali dianggap sebagai dunia impian kolektif, memberi ruang
                           bagi eskapisme yang bukan hanya lari dari atau ke tempat tertentu, tetapi
                           pelarian dari utopia kita sendiri. Budaya pop sendiri biasanya muncul
                           bersamaan dengan terjadinya proses industrialisasi dan urbanisasi. (Lihat:
                           Storey, 2003: 17-23)

                               Persoalan apakah tawaran kesenangan dan berbagai fantasi yang
                           dikemas benar-benar akan terus bertahan lama di benak masyarakat atau
                           hanya sepintas layaknya mode, hal itu hingga sekarang masih menjadi
                           polemik yang tak kunjung selesai. Marcuse (1968), misalnya menyatakan
                           bahwa budaya pop merupakan mode ideologi kapitalis akhir yang tidak
                           menawarkan doktrin yang tak terbantahkan atau tesis tentang keniscayaan
                           dan rasionalitas masyarakat kini, namun hanya menyediakan narkotika
                           jangka pendek yang mengalihkan perhatian orang dari masalah riil
                           mereka dan mengidealisasikan masa kini dengan menjadikan pengalaman
                           representasi yang menyenangkan. (Agger, 2003: 180-181)

                               Sementara itu, Ben Agger (2003), meski tidak melihat budaya populer
                           sebagai ancaman bagi kemanusiaan karena dominasi dan hegemoni yang
                           mereka lakukan sebagai bagian dari industri budaya. Tetapi, ia sepakat
                           dengan Adorno, Horkheimer, dan Marcuse bahwa industri budaya telah

                                                                                                 245
   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38