Page 28 - index
P. 28
Metode Penelitian Sosial
Barker (2004: 9) menegaskan bahwa cultural studies sebetulnya di saat
yang sama juga memiliki prinsip sentral, yaitu karakternya yang non-
reduksionisme. Artinya, kebudayaan dipandang memiliki makna, aturan
dan praktiknya sendiri yang tidak dapat direduksi menjadi, atau hanya dapat
dijelaskan di dalam, kategori atau level lain dalam bangunan atau struktur
sosial. Secara khusus, cultural studies bahkan telah bertempur melawan
reduksionisme penjelasan ekonomi, yaitu upaya untuk menjelaskan teks
budaya semata berdasarkan tempatnya di dalam proses produksi. Bagi
cultural studies, proses ekonomi politik tidak menentukan makna teks
maupun pemahamannya oleh audiensi. Justru, ekonomi politik, hubungan
sosial dan kebudayaan harus dipahami dalam konteks logika spesifik dan
PRENADAMEDIA GROUP
cara perkembangannya yang diartikulasikan atau terkait bersama-sama
secara spesifik berdasarkan konteksnya.
Beberapa definisi dan lingkup utama yang menjadi perhatian cultural
studies, adalah Pertama, hubungan atau relasi antara kebudayaan dan
kekuasaan. Kedua, seluruh praktik, institusi dan sistem klasifikasi yang
tertanam dalam nilai-nilai partikular, kepercayaan, kompetensi, kebiasaan
hidup (termasuk perilaku membaca), dan bentuk-bentuk perilaku yang
biasa dari sebuah populasi. Ketiga, berbagai kaitan antara bentuk-
bentuk kekuasaan gender, ras, klas, kolonialisme dan sebagainya dengan
pengembangan cara-cara berpikir tentang kebudayaan dan kekuasaan yang
dapat digunakan oleh agen-agen dalam mengejar perubahan. Keempat,
berbagai kaitan wacana di luar dunia akademis dengan gerakan sosial dan
politik, para pekerja di lembaga-lembaga kebudayaan dan manajemen
kebudayaan. (Storey, 2003: vii)
Istilah cultural studies sendiri meski banyak berutang kepada teori
Marxis, namun perspektif yang dikembangkan telah melompat jauh di luar
pendekatan Marxis, dan bahkan tidak jarang bertentangan. Dalam hal ini,
kerangka berpikir atau asumsi dasar dari cultural studies yang dipengaruhi
Marxisme, paling tidak kelihatan dalam dua hal. Pertama, untuk memahami
makna dari teks atau praktik budaya kita harus menganalisisnya dalam
konteks sosial dan historis produksi dan konsumsinya. Kedua, masyarakat
industrial kapitalis adalah masyarakat yang disekat-sekat secara tidak
adil menurut, misalnya garis etnis, gender, keturunan dan kelas. Dan,
budaya adalah suatu ranah atau tempat berlangsungnya pertarungan
terus-menerus atas makna di mana kelompok-kelompok subordinat
mencoba menentang penimpaan makna yang sarat akan kepentingan
kelompok dominan. (Storey, 2007: 4)
240

