Page 27 - index
P. 27

Bab 20: Perspektif Cultural Studies: Fokus ...


                           juga berkembang sebagai bagian dari proses dialektika.

                               Budaya dalam cultural studies lebih didefinisikan secara politis
                           ketimbang secara estetis (Storey, 2007: 2). Objek kajian dalam cultural
                           studies bukanlah budaya yang didefinisikan dalam pengertian yang sempit,
                           yakni sebagai objek keadiluhungan estetis, juga bukan budaya yang
                           didefinisikan dalam pengertian sebagai bagian dari proses perkembangan
                           estetik, intelektual, dan spiritual, melainkan budaya yang dipahami
                           sebagai teks dan praktik hidup sehari-hari. Yang dimaksudkan teks di
                           sini bukan hanya menunjuk pada kata-kata tertulis, meski ini adalah
                           salah satu indranya, melainkan semua praktik yang memiliki makna.
                           Ini termasuk pembentukan makna melalui berbagai citra, bunyi, objek,
                                    PRENADAMEDIA GROUP
                           seperti pakaian atau buku, misalnya, dan aktivitas lain, termasuk aktivitas
                           mengisi waktu luang. Seperti dikatakan Barker (2004: 11), citra, bunyi,
                           objek, dan aktivitas  pada dasarnya merupakan sistem tanda, yang
                           memaknai dengan mekanisme yang sama dengan bahasa, sehingga
                           kita dapat menunjuknya sebagai teks budaya. Makna diproduksi dalam
                           interaksi antara teks dan pembacanya, sehingga momen konsumsi juga
                           merupakan momen produksi yang penuh makna. (Barker, 2004: 12).
                               Fokus utama cultural studies berpusat pada pertanyaan tentang
                           representasi, yaitu bagaimana dunia ini dikonstruksi dan direpresentasikan
                           secara sosial kepada dan oleh kita. Cultural studies, dalam berbagai
                           studinya umumnya mengeksplorasi pembentukan makna tekstual, dan
                           sekaligus menyelidiki tentang cara dihasilkannya makna pada beragam
                           konteks. Seperti dikatakan Barker (2004: 9), representasi dan makna
                           budaya memiliki materialitas tertentu, mereka melekat pada bunyi,
                           prasasti, objek, citra, buku, majalah, program televisi atau yang lain.
                           Mereka diproduksi, ditampilkan, digunakan, dan dipahami dalam konteks
                           sosial tertentu. Mengapa seorang remaja urban memilih memanfaatkan
                           waktu luang untuk membaca, misalnya, bukan aktivitas yang lain, tentu
                           bukan sekadar karena didorong faktor psikologis atau motivasi untuk
                           memperoleh pengetahuan belaka, tetapi yang perlu dikaji adalah konteks
                           dan konstruksi sosial yang berkembang di benak remaja urban itu dalam
                           memandang aktivitas membaca, termasuk bacaan yang dipilih dan apa
                           sebetulnya yang membuat ia senang melakukannya.

                               Cultural studies, dalam berbagai studi yang dilakukan sebagian besar
                           memberi perhatian pada ekonomi industri modern dan budaya media yang
                           diproduksi pada sistem kapitalis di mana representasi diproduksi oleh
                           perusahaan yang didorong oleh motif mencari laba. Namun demikian,

                                                                                                 239
   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32