Page 419 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 419

Anonimitas dan Pemenuhan Kebutuhan Psikososial
                                                 melalui  Pengungkapan Diri di Media Sosial

             di media online, maka ia akan cenderung mengungkapkan informasi
             yang superfi sial dengan strategi komunikasi yang bersifat konformis
             terhadap norma-norma kelompok (Brandtzæg, Lüders, & Skjetne,
             2010).


             Anonimitas, Reduksi Ketidakpastian dan
               Pengungkapan Diri Personal

                  Lebih jauh,  anonimitas memicu orang yang akan terlibat dalam
             interaksi berada dalam situasi yang tidak nyaman secara kognitif,
             sehingga menyebabkan orang yang ingin terlibat dalam interaksi
             harus melakukan beberapa macam strategi untuk meningkatkan
               prediktabilitas dalam interaksi (Tidwell & Walther, 2002; Turner
             & West, 2010). Mereduksi ketidakpastian dan meningkatkan
             prediktabilitas merupakan hal yang penting bagi seseorang yang ingin
             mengembangkan hubungan lebih jauh baik dalam interaksi  online
             ataupun tatap muka.
                  Dalam interaksi tatap muka, penurunan ketidakpastian dalam
             hubungan dapat dilakukan melalui observasi langsung atas isyarat-
             isyarat sosial ataupun melalui tanya jawab langsung. Bila ada isyarat
             sosial yang tidak jelas, mereka dapat secara langsung mengonfi rmasi
             ketidakpastian tersebut (Berger & Calabrese, 1975). Sebaliknya, dalam
             media online seringkali komunikasi hanya didasarkan pada informasi
             teks dan grafi k serta meniadakan kemungkinan untuk mengobservasi
             isyarat-isyarat sosial (misal tatap mata, suara, atau bahasa nonverbal
             lainnya). Keterbatasan medium yang bersifat anonim secara visual
             serta hanya berbasis teks dan grafi s mengakibatkan para pengguna
             media  online cenderung terlibat dalam beragam pertanyaan yang
             lebih intens untuk mereduksi ketidakpastian dan meningkatkan
             prediktabilitas hubungan (Tidwell & Walther, 2002; Whitty & Joinson,
             2009).
                  Menariknya proses pertukaran informasi antara orang-orang
             yang berinteraksi dalam media online dapat menyebabkan terjadinya
             proses atribusi yang bersifat  hiperpersonal antara pengguna yang
             satu dengan yang lain (Walther, 1996). Fenomena  hiperpersonal
             dalam media  online sendiri merujuk pada kecenderungan pihak-
             pihak yang terlibat dalam komunikasi online untuk melebih-lebihkan




                                                                                      387
   414   415   416   417   418   419   420   421   422   423   424