Page 422 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 422

PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI

            negatif (kekecewaan, kekesalan) untuk menarik perhatian orang lain
            (Graham et al., 2008). Seidman (2014) mengatakan bahwa pengguna
              media sosial yang  mengungkapkan konten-konten emosional di
            Facebook cenderung digerakkan oleh motif yang lebih berorientasi
            pada diri daripada  oleh motif yang berorientasi pada orang lain. Yang
            dimaksud motif yang berorientasi lebih pada diri dibandingkan pada
            orang lain adalah motivasi untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat
            egoistik untuk diterima secara sosial (egoistic belonging motive)  dan
            mendapatkan perhatian dari orang lain, dibandingkan motivasi  untuk
            mengekspresikan kepedulian terhadap orang lain (altruistic belonging
            motive) dalam penggunaan  media sosial (Seidman, 2014).
                 Lebih jauh Valkenburg, Schouten dan Peter (2005) menggolongkan
            motif-motif psikososial yang membuat seseorang terlibat dalam
            aktivitas  online dalam tiga kategori motif, yaitu:  eksplorasi diri,
              kompensasi sosial, dan juga fasilitasi atau peningkatan sosial.
            Motif  eksplorasi diri terkait dengan motif untuk mencoba-coba atau
            mengeksplorasi  identitas baru dengan harapan dapat merasakan
            reaksi orang lain atas eksperimen  identitas tersebut (Valkenburg,
            Schouten, & Peter, 2005). Anonimitas visual yang dimiliki media
            online memungkinkan orang untuk melakukan eksplorasi  identitas
            sehingga memungkinkannya mendapatkan pengalaman psikologis
            yang sama sekali baru. Seorang remaja lelaki usia 12 tahun bisa
            membuat akun palsu dengan menampilkan diri sebagai perempuan
            berusia 18 tahun dan secara bersamaan dapat mengobservasi dan
            merasakan bagaimana orang lain bereaksi dan merespon  identitas
            baru yang ditampilkannya.
                 Motif  kompensasi sosial mengacu pada kecenderungan orang
            untuk mengkompensasi relasi sosial tatap muka yang dinilainya
            negatif dengan mencari, mengembangkan, atau membina hubungan
            sosial secara  online (Valkenburg, Schouten, & Peter, 2005; Zywica
            & Danowsky, 2008). Seseorang yang merasa tidak bahagia dengan
            hubungan yang dimilikinya, mempunyai kesulitan membina
            persahabatan, atau mengalami  kecemasan sosial dalam relasi tatap
            muka, dapat melibatkan diri secara lebih aktif dalam hubungan
            online untuk menggantikan hubungan yang tidak diinginkan atau
            tidak memuaskan dalam relasi tatap muka (Valkenburg, et al., 2005).
            Seidman (2014) menyatakan bahwa motif untuk memenuhi kebutuhan



          390
   417   418   419   420   421   422   423   424   425   426   427