Page 418 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 418

PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI

            intim, dan egaliter dalam mengungkapkan dirinya kepada orang
            lain (Nguyen  et al., 2012; Suler, 2004). Sebagai contoh, seseorang
            yang pemalu dan memiliki  self-esteem yang rendah biasanya akan
            cenderung menghindari kontak mata ketika ia harus berkomunikasi
            secara langsung dengan lawan bicaranya, namun sifat  anonimitas
            visual pada  media sosial akan membuat orang dengan karakteristik
            tersebut tidak perlu khawatir dan terintimidasi dengan reaksi-reaksi
            verbal ataupun nonverbal yang dapat dilihat langsung sebagaimana
            terjadi dalam interaksi tatap muka.
                 Dalam model  identitas sosial berbasis efek deindividuasi (biasa
            dikenal sebagai  SIDE  atau  social identity model of deindividuation
            effects)  juga dijelaskan bagaimana  anonimitas visual dalam media
            online dapat mengarahkan sensitivitas seseorang pada menonjolnya
            salah satu  identitas tertentu ( identitas personal atau sosial) (Nguyen et
            al., 2012; Postmes, Spears & Lea, 1998; Spears & Lea, 1992). Perilaku
            seseorang yang seringkali mengungkapkan informasi personal
            yang sensitif di luar kebiasaan norma sosial dapat disebabkan
            oleh dua hal, yaitu  identitas personal yang lebih menonjol ketika
            berhubungan dengan orang lain dan persepsi  anonimitas atas dirinya
            sendiri ketika berinteraksi dalam  ruang publik. Identitas personal
            yang lebih menonjol dapat diartikan sebagai kecenderungan orang
            menunjukkan diri yang sebenarnya  ( true self) dalam  media sosial
            seraya mengabaikan peran dan tanggung jawabnya sebagai anggota
            kelompok yang diikat oleh norma-norma tertentu. Perlu dicatat disini
            bahwa  media sosial sesungguhnya tidaklah benar-benar anonim
            sebab dalam  jejaring sosial seperti  Facebook  identitas pengguna
            dapat diketahui melalui halaman profi l. Namun ketiadaan tampilan
            fi sik atau  anonimitas visual dalam interaksi secara  online kiranya
            cukup memberikan derajat kebebasan tertentu bagi seseorang untuk
            mengungkapkan hal-hal yang tidak mungkin diungkapkan dalam
            interaksi tatap muka. Akibatnya, seseorang yang ingin menunjukkan
            diri yang sebenarnya  ( true self) dengan mengabaikan norma-norma
            kelompok dan mempersepsikan media online sebagai medium yang
            anonim secara visual, akan membuatnya mengungkapkan informasi
            pribadi yang bersifat ekstrim, sensitif, dan mendalam. Sebaliknya jika
            seseorang merasa dirinya tidak cukup anonim dalam media  online
            dan mempunyai  identitas sosial yang menonjol ketika berinteraksi



          386
   413   414   415   416   417   418   419   420   421   422   423