Page 416 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 416

PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI

              imajinasi dan persepsinya sekaligus dapat mempresentasikan dirinya
            sesuai  imajinasi tentang  karakter yang dia inginkan (Suler, 2004).
            Selanjutnya,  imajinasi dalam ruang  online dapat menimbulkan
            solipsistic introjection atau  introyeksi solipsis,  dimana  seseorang
            seolah-olah dapat merasakan kehadiran lawan interaksinya melalui
            imajinasinya (Suler, 2004). Seolah-olah dia dapat membayangkan
            gambaran visual dan perilaku lawan bicaranya walaupun tidak
            bertemu secara langsung dengan lawan bicaranya itu.
                 Yang  keempat  dan terakhir, internet memungkinkan seseorang
            untuk menampilkan  identitas yang berbeda dari apa yang ditunjukkan
            sehari-hari dalam interaksi tatap muka (Waskul & Douglas, 1997).
            Berbeda dengan interaksi tatap muka langsung dimana seseorang
            cenderung lebih sulit untuk bisa mempresentasikan diri sesuai
            keinginannya karena kehadiran lawan bicara yang selalu mengobservasi
            bahasa verbal dan nonverbalnya, dalam interaksi  online dia tidak
            perlu merasa terintimidasi oleh isyarat-isyarat visual lawab bicara
            sehingga dapat lebih mengontrol presentasi dirinya. Hal ini sangat
            terkait dengan sifat media yang memberikan  anonimitas visual serta
            keterpisahan ruang dan waktu pada penggunanya. Turkle (1995)
            menyatakan bahwa  anonimitas yang ditawarkan oleh media  online
            telah memungkinkan seseorang untuk mengkonstruksi  identitas baru
            yang berbeda dengan  identitas dalam dunia kehidupannya sehari-
            hari. Presentasi diri dapat lebih dikontrol dan diatur dalam interaksi
            online. Orang dapat menampilkan  identitas dan persona yang berbeda
            pada orang dan jejaring yang berbeda di media online.
                 Namun faktor  anonimitas tetap menjadi titik penentu cara
            seseorang dapat lebih bebas mengungkapkan diri dalam  ruang publik
            di  media sosial. Bahkan derajat  anonimitas yang ditawarkan oleh
              media sosial bisa menjadi titik tolak tentang bagaimana presentasi diri
            dan aneka  pengalaman keterbebasan dapat dirasakan oleh pengguna,
            baik  pengalaman keterbebasan dari  identitas tubuh maupun
            keterbebasan dari ruang fi sik dan waktu. Faktor  anonimitas, dalam
            hal ini  anonimitas visual, berdampak pada cara seseorang dapat
            merasakan pengalaman-pengalaman lain yang tidak didapatkan
            dalam interaksi tatap muka sehingga membuatnya mampu keluar
            dari dirinya dengan mengungkapkan diri secara lebih bebas dan intim
            dalam  ruang publik yang bernama  media sosial.



          384
   411   412   413   414   415   416   417   418   419   420   421