Page 413 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 413

Anonimitas dan Pemenuhan Kebutuhan Psikososial
                                                 melalui  Pengungkapan Diri di Media Sosial

                  Tingginya keterlibatan dan pengungkapan informasi personal
             dalam  media sosial tidak hanya terjadi di Amerika. Publik di
             Indonesia pun kurang lebih memiliki kecenderungan yang sama.
             Studi yang dilakukan oleh Ardi dan Maison (2015) menunjukkan
             bahwa kebanyakan orang Indonesia cenderung menganggap bahwa
             detil informasi di halaman profi l  Facebook (seperti tempat kerja,
             lokasi, profesi, agama, pandangan politik, dan informasi keluarga)
             bukanlah merupakan  privasi. Dibandingkan orang Polandia, orang
             Indonesia juga lebih membuka  aksesibilitas informasi halaman profi l
             mereka kepada publik (Ardi & Maison, 2014a; 2014b). Survei yang
             lain juga mencatat bahwa orang Indonesia merupakan pengguna yang
             sangat aktif dalam aktivitas di  media sosial. Secara jumlah, Indonesia
             merupakan pengguna  Facebook terbesar di dunia, setelah Amerika
             Serikat, Brazil dan India (Social bakers, 2014). Survei dari Global Web
             Index (2013) juga melaporkan bahwa Indonesia merupakan pengguna
             Facebook paling aktif kedua setelah Afrika Selatan. Hampir 90% dari
             aktivitas online orang Indonesia dihabiskan untuk terhubung dengan
               media sosial (APJII, 2013). Survei dari Ipsos (2013)  melaporkan
             bahwa Indonesia (76%) dan China (76%) merupakan negara dengan
             pengguna  media sosial paling sering mengungkapkan apa pun yang
             dianggap menarik dalam kehidupan keseharian mereka di  media
             sosial dibandingkan pengguna dari negara-negara lain.
                  Keberadaan  media sosial di satu sisi dapat memberikan manfaat
             bagi penggunanya untuk secara cepat terhubung dengan orang lain,
             namun di sisi lain pengungkapan informasi personal yang berlebihan
             di  media sosial dapat membuat seseorang rentan menjadi target
             tindakan kriminal atau hal lain yang membahayakan kenyamanan
             psikologisnya. Terdapat sejumlah kasus  kekerasan seksual,
             penculikan anak, dan kejahatan lain di Tanah Air yang bermula
             dari kesembronoan orang yang cenderung mudah mengungkapkan
             informasi pribadi di  media sosial kepada orang lain (Tempo, 2013).
                  Artikel ini merupakan sebuah kajian teoretis terkait beberapa
             alasan mengapa seseorang cenderung merasa nyaman dan bebas
             mengungkapkan hal-hal yang bersifat personal di  media sosial. Hal
             itu dapat disebabkan oleh sifat media itu sendiri yang memberikan
             derajat  anonimitas tertentu pada pengguna yang berpengaruh
             terhadap kesadaran diri  (self-awareness) dan memberikan peluang



                                                                                      381
   408   409   410   411   412   413   414   415   416   417   418