Page 220 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 220
PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI
terpinggirkan dan mengira bahwa tidak ada yang mau berteman
dengannya. Alhasil ia pun menjadi cemas untuk ikut terlibat, FoJI.
BRoMO: When your ‘Bros’ (friends) protect you from Missing Out. Ini
merupakan aksi solidaritas dari teman yang sengaja tidak memposting
foto atau status yang menyenangkan saat tidak bersama teman yang
mengalami FoMoMO agar teman itu tidak merasa ditinggal.
SLOMO: Slow to Missing Out. Ini adalah situasi kecemasan yang
muncul karena individu tertidur sehingga melewatkan kesempatan
saat teman atau teman-teman sedang bergembira. Dia baru tahu
keesokan paginya saat membuka media sosial yang sudah penuh
dengan foto-foto tentang peristiwa yang dia lewatkan malam
sebelumnya.
JoMO: The Joy of Missing Out. Ini merupakan keadaan psikologis
yang sesungguhnya justru perlu dirasakan oleh individu, yaitu tetap
merasa nyaman walaupun ia tidak update dengan status teman-
teman di media sosial. Individu tidak merasa harus berada di semua
tempat dan tetap merasa bahagia tanpa terhubung dengan dunia
maya dan media sosial.
Istilah-istilah di atas merupakan buah dari terbentuknya sikap
dan perilaku keterikatan yang begitu kuat pada media sosial sampai
menimbulkan obsesi pikiran dan perilaku kompulsif. Ironisnya,
kecemasan dan ketakutan sebagai manifestasi gangguan obsesif
kompulsif ini adalah konsekuensi dari sangat terkoneksinya seseorang
melalui teknologi yang awalnya diciptakan untuk ‘mendekatkan’
yang jauh. Kemudahan dan relatif terjangkaunya teknologi internet
semakin menguatkan munculnya kondisi di atas (Markplus Insight,
2012). Pengakuan akan kekinian tidak lagi berfungsi sebagai sekadar
tambahan informasi tetapi telah menjadi kebutuhan yang harus segera
dipenuhi dan secara instan pula. Kebutuhan untuk menunjukkan
kekinian seolah telah mengalahkan kebutuhan lain yang lebih primer.
Di kalangan pecandu internet bahkan dikenal fi losofi ‘ makan ngga
makan asal konek’ yang mencerminkan betapa resahnya manusia
jaman ini bila tidak terhubung lewat internet.
Seberapa signifi kankah pengaruh teknologi dalam perkembangan
kejiwaan manusia dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini?
Banyak penelitian yang sudah dilakukan baik di Indonesia maupun
di negara lain untuk mendapatkan gambaran lebih jauh tentang
188

