Page 222 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 222

PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI

                 Ketiga, hasil survei FoMO yang dilakukan oleh organisasi profesi
            psikologi Australia ( Australian Psychological Society, disingkat APS)
            menunjukkan bahwa remaja di Australia terhubung dengan  media
            sosial selama rata-rata 2,7 jam per hari. Sebagian cukup besar
            (56%) dari mereka melakukan lebih dari 5 kali koneksi dan sebagian
            lainnya (25%) bahkan terhubung secara terus-menerus. Sebagai
            perbandingan, survei yang sama menunjukkan bahwa kelompok
            dewasa di Australia terhubung dengan  media sosial selama rata-
            rata 2,1 jam per hari. Sebagian dari mereka (25%) mengaku  sebagai
            pengguna berat sosial media, dan sebagian kecil (6%) di antaranya
            mengaku terhubung secara terus-menerus (APS, 2016). Sebagian
            kecil (12%) dari keseluruhan partisipan dalam survei ini menyatakan
            bahwa  media sosial adalah sumber stress karena mereka merasa
            kesulitan berkejaran dengan informasi yang tersedia dalam media
            ini; sementara lebih banyak partisipan yang menyatakan bahwa
              media sosial justru membantu mereka mengatasi stress, yaitu
            31% dalam survei tahun 2011 dan 51% dalam sruvei tahun 2015.
            Prevalensi FoMO pada remaja adalah 50%, sedangkan pada kelompok
            dewasa adalah 25%. Penelitian ini juga menemukan bahwa remaja
            secara signifi kan lebih besar kemungkinannya mengalami fenomena
            FoMO dibandingkan kelompok dewasa. Artinya,  media sosial sangat
            berpengaruh bagi remaja dalam pembentukan  identitas diri.
                 Keempat,  Przybylski, Murayama, DeHaan, dan Gladwell (2013)
            menyatakan bahwa mereka yang mengalami FoMO di  media sosial
            ternyata mengalami pemuasan kebutuhan,  mood dan kepuasan
            hidup yang rendah dalam kehidupan nyata. Keterikatan dengan
              media sosial tertentu sampai menimbulkan fenomena FoMO menjadi
            sangat berbahaya karena individu bisa berperilaku irasional untuk
            mengatasi FoMOnya, misal terus melakukan pemantauan obsesif
            terhadap  media sosial saat mengemudikan kendaraan. Bagi individu
            semacam ini serasa tidak bisa terpisahkan sedetikpun dari  smartphone
            dan  media sosial sasaran, dan merasa galau bila tidak tahu berita
            terbaru atau bila ada teman yang mempertanyakan mengapa ia tidak
            tahu berita terbaru.
                 Kelima, konsekuensi negatif dari FoMO bagi remaja adalah masalah
              identitas diri, kesepian, gambaran diri negatif, perasaan inadekuat,
            perasaan terpinggirkan, dan iri hati (Beyens, Frison & Eggermont,



          190
   217   218   219   220   221   222   223   224   225   226   227