Page 223 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 223

Fenomena Kekinian dan Potensi Masalah Kejiwaan

             2016). Remaja yang mengalami FoMO menunjukkan tingkat stres yang
             tinggi dan punya kebutuhan tinggi untuk menjadi popular. Salah satu
             cara memuaskan kebutuhan itu adalah memastikan bahwa mereka
             selalu diikutsertakan dalam pertemanan di  media sosial, khususnya
             Facebook.
                  Keenam,  Vorderer, Kromer dan Schneider (2016) menyebut
             dorongan untuk terus terhubung dan rasa keharusan untuk
             menjawab pesan atau memberikan komentar secara segera di  media
             sosial atau sarana komunikasi elektronik lainnya ini sebagai perilaku
             PO/PC atau  Permanently Online/Permanently Connected. Mereka
             dengan PO/PC yang tinggi cenderung mengekspresikan frustrasi dan
             perasaan negatif bila terputus koneksi (offl ine) akibat signal jaringan
             internet yang lemah. Mereka juga menemukan bahwa partisipan lebih
             mengutamakan terhubung dengan orang lain (PC) daripada sekadar
             online untuk kebutuhan browsing (PO). Salah satu ciri dari mereka
             dengan perilaku PO/PC yang tinggi adalah kebiasaan meletakkan
               smartphone dalam jangkauan dari tempat tidur pada malam hari,
             sebagai bentuk pemenuhan rasa aman atas kebutuhan untuk
             menjawab segera tersebut.
                  Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi FoMO? Beberapa tips
             berikut mungkin bisa memberikan insight bagi kita sendiri maupun
             orang lain yang mengalami kesulitan berupa FoMO, MoMO, FoMoMO,
             FoJI, BROMO, atau SLOMO sebagaimana diuraikan di atas.
                  Pertama,  hendaklah kita sadari bahwa tidak ada seorang pun
             yang benar-benar sempurna. Walaupun terlihat sangat bahagia dalam
               media sosial, dalam kehidupan yang sesungguhnya para pengguna
               media sosial itu mungkin perlu berjuang mengatasi permasalahan
             kehidupan yang mungkin tidak diceritakan secara lengkap.
                  Kedua, hendaklah kita lepaskan kekuatiran atas pembandingan
             yang dilakukan terhadap teman lewat  media sosial. Lebih baik kita
             fokus pada apa yang benar-benar kita inginkan.
                  Ketiga,  jangan karena takut ketinggalan informasi tentang
             kehidupan orang lain, kita justru kehilangan apa yang ada di hadapan
             mata. Menghabiskan waktu secara terus-menerus karena  kecemasan
             dan penasaran pada kehidupan orang lain dapat berakibat kita menjadi
             kurang peduli dengan kebutuhan orang-orang dekat (keluarga) kita
             sendiri.



                                                                                      191
   218   219   220   221   222   223   224   225   226   227   228