Page 202 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 202

PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI

            komunikasi terbuka diantara karyawan. Desain kantor yang terbuka
            sehingga perilaku karyawan lebih terlihat oleh atasan juga mengurangi
            kemungkinan perilaku cyberloafi ng.
                 Perbedaan     jenis   kelamin     juga    mempengaruhi       perilaku
            cyberloafi ng. Pria dan wanita mempunyai pandangan yang berbeda
            tentang  cyberloafi ng. Lim dan Chen (2009) menemukan bahwa
            karyawan pria sering melakukan perilaku  cyberloafi ng dan merasa
            bahwa hal itu mempermudah pekerjaan mereka. Sebaliknya,
            karyawan wanita menyatakan bahwa mereka tidak sering melakukan
            perilaku  cyberloafi ng dan menilai bahwa perilaku itu mengganggu
            proses kerja mereka. Pekerja pria berperilaku seperti itu karena pria
            memang cenderung lebih percaya diri dalam penggunaan internet dan
            menggunakannya untuk tujuan hiburan. Sebaliknya, wanita kurang
            percaya diri dan mempunyai sikap negatif terhadap penggunaan
            internet. Penelitian Jia, Jia, dan Karau (2016) juga menemukan bahwa
            karyawan pria dan muda cenderung lebih berperilaku cyberloafi ng.


            Merugikan atau Menguntungkan?

                 Banyak peneliti memasukkan cyberloafi ng dalam kategori perilaku
            menyimpang atau  perilaku tidak produktif (Dalal, 2005). Para peneliti
            tersebut menilai bahwa  cyberloafi ng merupakan perilaku buruk
            dan tidak tepat dilakukan di tempat kerja. Perilaku menyimpang
            dapat didefi nisikan sebagai perilaku yang menyimpang dari norma
            suatu kelompok yang menjadi referensinya (Warren, 2003). Manajer
            yang mengadopsi pemikiran ini akan membuat aturan tegas bahwa
            karyawan seharusnya tidak pernah menggunakan internet untuk
            kepentingan pribadi pada saat bekerja. Oleh Anandarajan dan
            Simmers (2005) manajer tipe itu disebut sebagai  cyber-bureaucrats
            atau birokrat-maya.
                 Manajer tipe birokrat maya percaya bahwa cyberloafi ng merupakan
            sebuah bentuk perilaku kerja tidak produktif. Perilaku tidak produktif
            dalam bentuk cyberloafi ng ini sangat tidak kentara karena seorang
            karyawan dapat melakukannya kendati terlihat seperti sedang tekun
            melakukan pekerjaannya.  Perilaku  cyberloafi ng dapat dilakukan
            kapan saja, tidak perlu meninggalkan tempat kerja, bahkan juga
            tidak perlu menunggu bos sedang tidak ada di tempat. Askew (2012)




          170
   197   198   199   200   201   202   203   204   205   206   207