Page 201 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 201

Cyberloafing di Tempat Kerja: Merugikan atau Menguntungkan?

             karena adanya tuntutan dan harapan yang berbeda-beda dan
             saling berlawanan. Sementara ambiguitas peran menimbulkan
             ketidakpastian tentang peran apa yang seharusnya dilakukan oleh
             karyawan. Ketidakpastian ini mengakibatkan perasaan stres pada
             diri karyawan. Selanjutnya perilaku cyberloafi ng dipilih sebagai upaya
             karyawan mengatasi stres yang dialaminya.
                  Faktor lain yang tidak kalah penting dalam mempengaruhi
             cyberloafi ng adalah  locus of control.  Locus of control didefi nisikan
             sebagai sejauhmana individu meyakini bahwa mereka mempunyai
             kendali atas situasinya (Rotter, 1996). Orang yang mempunyai  locus
             of control eksternal meyakini bahwa kejadian luar lebih mempunyai
             pengaruh dibandingkan dirinya sendiri. Spector dan Fox (2002)
             menyatakan bahwa orang yang mempunyai  locus of control eksternal
             lebih mungkin untuk melakukan perilaku kerja tidak produktif,
             termasuk perilaku cyberloafi ng. Levenson (1974) menemukan dua jenis
             keyakinan yang ada dalam  locus of control eksternal, yaitu keyakinan
             bahwa orang lain lebih punya kuasa dan keyakinan akan takdir. Hasil
             penelitian Blanchard dan Henle (2008) memperkuat temuan Spector
             dan Fox. Secara lebih detil mereka menemukan bahwa karyawan
             yang melakukan cyberloafi ng baik minor maupun serius tidak berfi kir
             bahwa orang lain yang menjadi atasan akan menangkap perilaku
             mereka yang tidak tepat itu. Mereka percaya bahwa bila mereka
             tertangkap, hal itu adalah persoalan ketidakberuntungan semata.
                  Kepribadian juga mempunyai korelasi dengan cyberloafi ng. Jia, Jia,
             dan Karau (2016) meneliti hubungan antara sifat conscientiousness,
             stabilitas emosi,   agreeableness, ekstroversi, dan keterbukaan
             terhadap pengalaman dengan  cyberloafi ng. Hasil penelitian mereka
             menunjukkan bahwa ekstroversi berkorelasi secara positif dengan
             cyberloafi ng;  conscientiousness, stabilitas emosi, dan keterbukaan
             terhadap pengalaman berkorelasi negatif; sedangkan   agreeableness
             tidak mempunyai korelasi dengan cyberloafi ng.
                  Selain faktor-faktor tersebut di atas, dengan menyandarkan
             pada literatur tentang perilaku menyimpang Liberman et al. (2011)
             menyimpulkan bahwa karakteristik desain organisasi mempunyai
             pengaruh terhadap  cyberloafi ng. Organisasi dengan struktur non-
             birokratis membuat lebih rendah kemungkinan terjadinya perilaku
             menyimpang karena organisasi seperti itu mengembangkan



                                                                                      169
   196   197   198   199   200   201   202   203   204   205   206