Page 199 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 199
Cyberloafing di Tempat Kerja: Merugikan atau Menguntungkan?
mengganggu, seperti melihat situs dewasa dan melakukan permainan
daring; cyberloafi ng rekreasional, seperti belanja daring dan
berselanjar tanpa tujuan; serta cyberloafi ng pembelajaran pribadi
seperti mengunjungi situs kelompok profesional dan mencari berita
atau pengetahuan baru.
Anteseden dan Prediktor Cyberloafi ng
Ada berbagai faktor penyebab perilaku cyberloafi ng yang
sudah diteliti atau dilaporkan dalam berbagai literatur. Salah satu
faktor yang banyak disebut adalah persepsi ketidakadilan yang
dirasakan karyawan (Blau, Yang, & Ward-Cook, 2004). Karyawan
cenderung mengkompensasikan ketidakadilan yang dipersepsinya
dengan menghindar melakukan pekerjaannya. Salah satu perilaku
menghindar yang dipilih karyawan adalah menggunakan internet
untuk kepentingan yang tidak terkait dengan pekerjaannya. Semakin
besar ketidakadilan dirasakan, maka semakin banyak pula perilaku
cyberloafi ng yang akan terjadi.
Sikap kerja karyawan juga ditunjuk sebagai anteseden terhadap
cyberloafi ng (Liberman, Seidman, McKenna, & Buffardi, 2011). Mereka
meneliti keterlibatan kerja sebagai salah satu konstruk sikap kerja
karyawan. Karyawan yang mempunyai tingkat keterlibatan tinggi
dengan pekerjaannya akan kurang berperilaku menyimpang dalam
kerjanya karena lebih terpaku pada pekerjaan, sehingga tidak lagi
mempunyai waktu untuk melakukan perilaku yang tidak berhubungan
dengan pekerjaannya. Penelitian empiris telah menunjukkan bahwa
karyawan yang bosan dengan pekerjaannya lebih sering berperilaku
cyberloafi ng (Eastin, Glynn, & Griffi ths, 2007). Ketchen, Craighead,
dan Buckley (2008) menemukan bahwa karyawan yang memiliki
keterlibatan kerja dan minat yang rendah dengan pekerjaannya lebih
sering berperilaku yang tidak terkait dengan pekerjaanya pada jam
kerja.
Telah diketahui sejak lama bahwa konteks sosial dari tempat
kerja mempunyai pengaruh yang besar terhadap perilaku karyawan,
termasuk perilaku antisosial di pekerjaannya (Robinson & O’Leary-
Kelly, 1998). Salah satu konteks sosial terhadap tempat kerja adalah
budaya organisasi atau norma-norma yang berlaku di organisasi.
167

