Page 205 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 205

Cyberloafing di Tempat Kerja: Merugikan atau Menguntungkan?

                  Kebijakan tanpa  toleransi, yaitu kebijakan organisasi yang
             tidak membolehkan sama sekali melakukan akses internet bagi
             kepentingan yang tidak terkait dengan pekerjaan seringkali malah
             membuat karyawan teralienasi, mengurangi kepuasan kerja dan
             tidak memberikan nafas untuk kreativitas (Block, 2001; Greengard,
             2002). Kebijakan seperti ini akan membangkitkan saling tidak percaya
             antara manajemen dan karyawan. Sebaliknya, kebijakan yang
             terlalu longgar dengan membolehkan karyawan melakukan apa pun
             dapat menimbulkan dampak pelanggaran hukum serta mengurangi
             produktivitas bagi organisasi (Mirchandani & Motwani, 2003).
                  Organisasi perlu mengambil kebijakan yang tepat untuk menjaga
             agar  cyberloafi ng serius tidak terjadi, namun tetap memberikan
             kelonggaran bagi beberapa bentuk perilaku cyberloafi ng minor yang
             dapat mengurangi stres, menyeimbangkan kehidupan kerja dan
             keluarga, memunculkan gagasan kreatif, membangun jaringan, dan
             sebagainya. Blanchard dan Henle (2008) menyarankan agar organisasi
             mengambil kebijakan sesuai kondisi masing-masing dan menentukan
             bentuk cyberloafi ng yang diijinkan dan yang dilarang.
                  Blanchard dan Henle (2008) menyatakan bahwa mengeluarkan
             kebijakan berupa pelarangan dan pemberian sanksi terhadap
             cyberloafi ng dapat tidak mempengaruhi perilaku cyberloafi ng karena
             karyawan berfi kir bahwa perilaku mereka tidak mudah diketahui dan
             seandainya tertangkap oleh atasan hal itu adalah persoalan nasib
             semata. Untuk itu, selain mengembangkan dan mensosialisasikan
             kebijakan tentang penggunaan internet, organisasi juga perlu
             mengimplementasikan mekanisme penegakan kebijakan tersebut,
             misal pemanfaatan software pemantau yang dapat melacak penggunaan
             internet dan surat elektronik oleh karyawan serta menentukan jenis
             penggunaan mana yang tidak tepat. Aktivitas pemantauan ini akan
             efektif jika diikuti dengan tindakan pendisiplinan khususnya terhadap
             cyberloafi ng serius untuk memberikan penegasan bahwa tindakan
             tersebut tidak tepat.
                  Monitoring yang sangat ketat terhadap penggunaan internet di
             satu sisi dapat mengurangi penggunaan internet untuk keperluan
             pribadi namun di sisi lain juga dapat mengurangi tingkat kepuasan
             kerja karyawan (Urbaczewski & Jessup, 2002). Monitoring yang sangat
             ketat diikuti dengan pemberian sanksi disiplin yang sangat berat akan



                                                                                      173
   200   201   202   203   204   205   206   207   208   209   210