Page 20 - index
P. 20
Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer
nakan berbagai aspek tulisan klasik teoretikus besar sebelumnya, khu-
susnya Talcott Parsons.
Merton mulai mengembangkan analisis fungsionalnya dengan
menunjukkan perbendaharaan yang tidak tepat serta beberapa asumsi
atau postulat kabur yang terkandung dalam teori fungsionalisme seba-
gaimana dikembangkan para antropolog. Tiga dalil dasar analisis fung-
sionalisme yang dikiritik Merton antara lain: Pertama, dalil kesatuan
Prenada Media Group
fungsional masyarakat. Dalil tersebut menganggap bahwa semua keper-
cayaan sosial, budaya, dan praktik yang distandarkan bermanfaat bagi
k individu-indi-
masyarakat. Kedua, univ
bentuk sosial budaya yang distandarkan mempunyai fungsi positif. Ke-
tiga, dalil kebutuhan mutlak. Artinya semua aspek masyarakat yang su-
dah distandardisasi tidak hanya memiliki fungsi yang positif, tetapi juga
menggambarkan cara kerja keseluruhan yang mutlak ada.
Dalam membangun teorinya, Merton mengkritik Parsons dan teo-
retikus fungsionalisme awal yang dinilai hanya menyandarkan diri pada
pernyataan non-empiris yang didasarkan pada sistem teoretis abstrak
(Ritzer dan Goodman, 2008: 269). Berbeda pula dengan analisis fung-
sional Parsons yang membatasi diri pada analisis masyarakat secara ke-
seluruhan, Merton menjelaskan bahwa analisis fungsional dapat juga
dilakukan pada organisasi, institusi, atau kelompok.
Seperti Parsons, Merton menekankan tindakan yang berulang kali
atau yang baku, yang berhubungan dengan bertahannya suatu sistem
sosial di mana tindakan itu berakar. Merton menyatakan bahwa objek
apa pun yang dapat dianalisis secara struktural-fungsional harus merep-
resentasikan unsur-unsur standar, yaitu yang terpola dan berulang. Ia
menyebut hal ini sebagai peran sosial, peran institusional, proses sosial,
pola kultural, emosi yang terpola secara kultural, norma sosial, organ-
isasi kelompok, struktur sosial, dan alat kontrol sosial. Tetapi berbeda
dengan Parsons, Merton tidak menaruh perhatian pada orientasi sub-
itu,
efek atau konsekuensi sosial objektifnya. Dalam hal ini, Merton mem-
bedakan antara motif-motif subjektif (tujuan atau orientasi) dan efek
(konsekuensi) dari tindakan.
8

