Page 23 - index
P. 23

BaB 1  |  Fungsionalisme dan Neofungsionalisme: Asumsi Dasar, Perkembangan & Kritik

            konsekuensi fungsional yang positif dari suatu elemen kultural; dan (3)
            kemungkinan alternatif fungsional harus diperhitungkan dalam setiap
            analisis fungsional.
                Terlepas dari berbagai kekurangannya, Merton bagaimanapun harus
            diakui telah melengkapi teori fungsionalisme Talcott Parsons. Apa yang
            ditekankan Merton pada dasarnya antara lain: (1) bahwa karena proses
            diferensiasi, struktur sosial dapat menimbulkan konlik; (2) bahwa am-
        Prenada Media Group
            bivalensi sosiologis berkembang dalam struktur normatif dalam bentuk
            ketidaksesuaian harapan yang terpola; dan (3) bahwa struktur sosial
            menimbulkan perubahan di dalam struktur dan perubah an struktur itu
            sendiri (Poloma, 1984: 46).


            e. NeoFuNgsIoNAlIsme
                Ketika analisis fungsionalisme disadari terlalu sempit dan dipan-
            dang perlu mengembangkan analisis fungsionalisme menjadi teori yang
            lebih sintetik,  maka lahirlah kemudian neofungsionalisme.  Ilmuwan
            sosial yang mencoba merekonstruksi dan mengembangkan kembali
            analisis fungsionalisme ialah Jeffrey Alexander dan Paul Colomy, serta
            seorang teoretisi dari Jerman bernama Niklas Luhmann.
                Jeffrey Alexander dan Paul Colomy menyadari bahwa salah satu
            kelemahan mendasar Parsons yaitu ketika ia mereduksi dan menyatakan
            bahwa yang menjadi penentu sistem lain yakni sistem budaya. Alexan-
            der menyatakan beberapa orientasi mendasar dari neofungsionalisme,
            antara lain: Pertama, neofungsionalisme menolak setiap determinisme
            yang sifatnya tunggal, meski mengakui bahwa unsur-unsur dalam ma-
            syarakat saling berinteraksi membentuk suatu pola yang berhubungan
            secara simbolis.  Kedua,  neofungsionalisme tidak berpersepsi bahwa
              k        lev          sosi-
            al dan kebudayaan semata, tetapi juga dipengaruhi pola-pola tindakan
            pada  level  mikro.  Ketiga,  neofungsionalisme menyadari bahwa keter-
            tiban bukanlah fakta sosial yang sudah selesai, dan tidak menutup ke-
            mungkinan di masyarakat terjadi penyimpangan.  Keempat,  neofung-
                      kepribadian,  kebudayaan,
            sistem sosial,  tetapi interpenetrasi sistem tersebut diakui juga meng-
            hasilkan ketegangan-ketegangan yang merupakan sumber perubahan


                                                                        11
   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27   28