Page 19 - index
P. 19
BaB 1 | Fungsionalisme dan Neofungsionalisme: Asumsi Dasar, Perkembangan & Kritik
dividu sesungguhnya memiliki kebebasan dalam bertindak. Namun de-
mikian, voluntarisme yang dimaksud Parsons bukan berarti sama de ngan
free will, karena dalam memilih bertindak manusia tetap dipenga ruhi ni-
lai, norma, ide, situasi sosial, dan produk masyarakat yang lain.
Selain Parsons, tokoh lain yang memberikan sumbangan besar da-
lam perkembangan analisis fungsionalisme ialah Kingsley Davis dan
Wilbert Moore (1945). Kedua ilmuwan sosial ini memandang stratii-
Prenada Media Group
kasi sosial sebagai hal yang universal dan perlu (Ritzer, 2012: 404-406).
Mereka berargumen bahwa tidak ada masyarakat yang pernah tidak ter-
stratiikasi, atau tidak berkelas secara total. Stratiikasi dalam pandang-
an Davis dan Moore merupakan kebutuhan fungsional. Kedua ahli ini
berpendapat bahwa dalam semua masyarakat terdapat posisi yang se-
cara objektif lebih memiliki nilai fungsional daripada posisi lainnya,
dan membutuhkan keahlian khusus jika akan berjalan secara memadai.
Namun pemilik keahlian itu sedikit, karena bakat itu bersifat langka, se-
mentara pelatihan membutuhkan waktu dan sumber daya. Jadi, menurut
Davis dan Moore harus ada penghargaan yang memadai untuk mendo-
rong orang yang tepat untuk mengembangkan keahlian mereka (Aber-
crombie et al., 2010: 221).
D. FuNgsIoNAlIsme yANg leBIh emPIrIs
Ilmuwan sosial yang banyak melontarkan kritik dan sekaligus me-
la kukan menyempurnaan teori Talcott Parsons ialah Robert K. Merton.
Berbeda dengan Parsons yang sibuk membangun teori besar (grand theo-
ry) tentang tindakan dan sistem sosial, Merton yang sebetulnya meru-
pakan murid Parsons lebih fokus pada upaya membangun teori yang
lebih dekat dengan dunia empiris, yakni teori taraf menengah (theory of
middle-range). Dengan kata lain, Merton sesungguhnya merupakan teo-
retikus taraf menengah yang mencoba mengintegrasikan antara teori
dan riset.
Merton sendiri dalam pengembangan teorinya tentang analisis
fungsional banyak mengacu pada penulis besar, seperti Max Weber,
Wiliam I. Thomas dan Émile Durkheim sebagai dasar bagi karyanya—
yang sebetulnya lebih banyak berupa esai yang mencoba menyempur-
7

