Page 17 - index
P. 17
BaB 1 | Fungsionalisme dan Neofungsionalisme: Asumsi Dasar, Perkembangan & Kritik
(Turner & Maryanski, 2010: 65). Radcliff-Brown secara terus terang me-
nyatakan berutang budi pada Durkheim dan menerapkan analisis fung-
sional dalam karya etnograinya tentang penduduk Andaman. Brown
secara konsisten menganalisis peristiwa-peristiwa sosial berdasarkan
kebutuhan integratif dan menyatakan bahwa struktur kekerabatan pada
masyarakat tradisional yang ditelitinya memiliki fungsi penting untuk
menjamin konsistensi penetapan hak dan kewajiban, dan bagaimana
Prenada Media Group
penetapan hak dan kewajiban itu terjamin kontinuitasnya (Turner &
Maryanski, 2010:74).
Sementara itu, Malinowsky (1884-1942)—berbeda dengan Radcliffe-
Brown yang analisis fungsionalismenya terbatas pada analisis struktural
budaya tertentu—mengembangkan suatu skema analisis fungsional
yang luas dan abstrak. Malinowsky, dalam analisis fungsionalismenya
menekankan pentingnya kebutuhan biologis dalam membentuk buda-
ya, karena manusia pertama-tama dan paling penting harus memenuhi
semua kebutuhan organismenya. Namun begitu manusia bertindak un-
tuk memenuhi kebutuhan biologisnya, dia akan menciptakan pola or-
ganisasi sosial dan sistem simbol yang mewujudkan kebutuhan baru,
atau yang oleh Malinowsky disebut dengan istilah “kebutuhan turunan”
(derived need).
Malinowsky mencoba mengklasiikasikan jenis kebutuhan manusia
pada tiga tataran yang berbeda, yaitu tataran biologis, struktural sosial,
dan simbolis. Antropologi, menurut Malinowsky, seharusnya memusat-
kan perhatian pada cara-cara pemenuhan kebutuhan struktur sosial dan
simbolis, karena kebutuhan ini tidak hanya menyediakan “santapan bagi
spekulasi antropologis”, tetapi juga merupakan piranti heuristik penting
atau panduan komparatif guna mengorganisasikan data-data budaya
manusia (Turner & Maryanski, 2010: 85).
c. PuNcAK KejAyAAN struKturAl FuNgsIoNAl
Tokoh terkemuka dari perspektif struktural fungsional, yang mem-
buat perspektif ini dikenal luas dan menjadi bahan perdebatan yang tak
kunjung henti, tak pelak ialah Talcott Parsons, seorang sosiolog Ameri-
ka, dosen di Harvard University yang di masa itu menjabat sebagai pre-
siden The American Sociological Association.
5

