Page 105 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 105
BAB 5 SARANA TRANSPORTASI SELAMA MASA TANAM PAKSA
Walaupun pembangunan dan perbaikan sarana transportasi terus
berjalan dengan menggunakan tenaga kerja wajib ( heerendiensten), namun
sampai menjelang akhir abad ke-19, sarana pengangkutan orang dan
barang yang cepat dan murah belum dapat terpenuhi. Apalagi, berbagai
pembangunan dan perbaikan berjalan amat lambat karena medan yang
relatif sulit serta jumlah tenaga kerja yang kurang memadai. Dengan
kondisi infrastruktur transportasi yang masih sangat sederhana, sebuah
gerobak yang ditarik oleh hewan hanya mampu membawa beban sebanyak
7-10 pikul dengan jarak tempuh yang sangat terbatas. Tidak jarang hewan
13
penarik gerobak tersebut mati atau dicuri orang di tengah jalan. Akibat
sulitnya sarana transportasi, maka sering kali di gudang-gudang terjadi
penumpukan kopi yang sangat banyak karena terjadi keterlambatan untuk
diangkut. Tidak jarang kopi-kopi tersebut terancam rusak.
PENGANGKUTAN BARANG DARI PELABUHAN KE PEDALAMAN
Salah satu aktivitas yang dilakukan penduduk di kawasan pantai
Cilacap adalah pembuatan garam menangkap ikan. Pembuatan garam
merupakan mata pencaharian sebagai besar penduduk kawasan tersebut
sebelum wilayah Banyumas diambil alih oleh pemerintah kolonial. Garam-
garam yang mereka produksi dijual ke penduduk di berbagai daerah di
Keresidenan Banyumas. Sejak pemerintah kolonial Belanda mengambil
alih Keresidenan Banyumas dan mulai giat mengeksploitasi potensi
ekonomi yang terdapat di sana, mereka juga melakukan perdagangan
garam. Alasan yang digunakan pemerintah adalah bahwa perdagangan
garam yang dilakukan oleh penduduk merupakan perdagangan gelap.
Pemerintah kolonial kemudian memonopoli perdagangan garam
di Banyumas dan menjadikan garam sebagai produksi negara yang
pembuatannya dikerjakan oleh penduduk pantai sebagai bagian dari kerja
wajib ( heerendiensten). 14
13 Tim Telaga Bakti Nusantara, Sejarah Perkeretapian Indonesia, (Bandung: Angkasa, 1997),
hlm. 17
14 Kabinet Missive, 23 Mei 1833.
87

