Page 107 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 107
BAB 5 SARANA TRANSPORTASI SELAMA MASA TANAM PAKSA
mulai menetap di kabupaten-kabupaten di Keresidenan Banyumas. Mereka
adalah para pejabat kolonial yang ditempatkan di daerah tersebut. 18
AKTIVITAS PELABUHAN CILACAP
Pelabuhan Cilacap mulai diperhatikan secara serius untuk
kepentingan ekonomi setelah Belanda menguasai wilayah Banyumas.
Satu tahun setelah wilayah Banyumas diambil alih oleh pemerintah
kolonial Belanda, pemerintah segera melihat besarnya potensi daerah
pantai selatan bagi kegiatan pelayaran. Dengan memanfaatkan aliran-
aliran sungai yang mengalir dari pedalaman Banyumas, hasil pertanian
dari kawasan pedalaman bisa diangkut ke pantai selatan. Pertimbangan
tersebut diambil karena jika hasil pertanian harus dibawa ke pelabuhan
di pantai utara ternyata memerlukan waktu yang lebih lama. Pelabuhan
Tegal merupakan pelabuhan di pantai utara yang paling dekat dengan
wilayah Banyumas, namun jaraknya sekitar 140 Km dari Banyumas,
19
sedangkan pelabuhan Pekalongan lebih jauh lagi, yaitu 160 Km.
Jarak sejauh itu tentu saja memerlukan waktu yang sangat lama untuk
pengiriman komoditi pertanian. Perkembangan mulai terlihat ketika
pelabuhan Cilacap dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih besar,
yaitu sebagai pelabuhan ekspor untuk produk pemerintah, terutama kopi,
selama masa tanam paksa.
Aktivitas ekspor dan impor di pelabuhan Cilacap mulai nampak jelas
pada tahun 1832, ketika praktik tanam paksa mulai intensif dilaksanakan
di Banyumas. Sebagaimana dilaporkan oleh Residen Banyumas, G. de
Seriere, barang-barang yang diekspor dan diimpor melalui pelabuhan
Cilacap pada tahun 1832 adalah sebagai berikut.
18 Ibid.,
19 Susanto Zuhdi, Cilacap 1830-1942: Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa, (Jakarta:
Kepustakaan Populer Gramedia, 2002), hlm. 14
89

