Page 104 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 104
ARKEOLOGI TRANSPORTASI
Perspektif Ekonomi dan Kewilayahan Keresidenan Banyumas 1830–1940an
bisa dilewati dengan jalan kaki. Banyak jalan harus melewati sungai yang
tidak ada jembatannya, sehingga orang yang melintas harus menyeberangi
sungai tersebut. Sampai pertengahan abad ke-19, ruas jalan yang bisa
dilewati oleh kendaraan yang ditarik binatang, semisal gerobak dan dokar,
masih sedikit. Ruas jalan tersebut misalnya dari Banjarnegara menuju
Banyumas sejauh 33 pal dan dari Banyumas ke Adireja sepanjang 18
pal. Dari Banyumas ke utara sampai ke Sokaraja juga sudah bisa dilalui
gerobak, kemudian menyambung dari Sokaraja ke timur menuju ke
Purbalingga, serta dari Sokaraja ke barat menuju kota Purwokerto yang
kemudian menyambung ke Ajibarang. Dari kota Banyumas ke utara tidak
bisa langsung dilewati oleh gerobak karena persis di sebelah utara kota
membentang Sungai Serayu, sehingga gerobak ke Sokaraja atau sebaliknya
harus berhenti di tepi utara sungai. Orang yang akan ke kota Banyumas
dari arah Purwokerto harus diseberangkan dengan sampan atau rakit. 12
Gambar 13. Peta Kota Banyumas tahun 1925.
Sumber: colonialarchitecture.eu (2016)
12 Statistiek de Residentie Banjoemas, Staat Litt, A. No.. 5, Communicatie Middelen, 1838. Arsip
Banyumas 20.16.
86

