Page 110 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 110

ARKEOLOGI TRANSPORTASI
              Perspektif Ekonomi dan Kewilayahan Keresidenan Banyumas 1830–1940an



              sejak dibukanya jalur kereta api dari   pelabuhan  Cilacap ke pedalaman
              Banyumas  pada akhir abad ke-19.
                   Selama masa tanam paksa,   pelabuhan  Cilacap masih sebatas sebagai
              pelabuhan “milik pemerintah”. Aktivitas bongkar muat juga masih sebatas
              pada barang-barang milik pemerintah. Namun, ketika aktivitas tersebut
              semakin meningkat dan pemerintah melihat potensi yang strategis dari
                pelabuhan  Cilacap, ada keinginan untuk membuka pelabuhan bagi
              perdagangan swasta. Ketika Gubernur Jenderal  J.J. Rochussen (1845-
              1851) berkunjung ke  Bagelen (Purworejo), ia menyempatkan diri untuk
              mengunjungi   pelabuhan  Cilacap. Ia menilai   pelabuhan  Cilacap mempunyai
              potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai pelabuhan ekspor-impor
                         22
              bagi swasta.  Kunjungan Rochussen telah meyakinkan pemerintah untuk
              segera memajukan keberadaan pelabuhan ini, terbukti pada tahun 1846
              pemerintah mengeluarkan keputusan untuk membuka secara resmi
                  pelabuhan  Cilacap bagi kegiatan perdagangan walaupun masih dalam
                         23
              skala kecil.  Dua belas tahun kemudian, pemerintah memperlihatkan
              keinginan untuk menjadikan   pelabuhan  Cilacap berfungsi bagi kegiatan
              perdagangan besar, dalam arti tidak saja bagi kalangan pemerintah, tetapi
              juga untuk kalangan swasta. Keinginan tersebut diwujudkan dengan
              rencana membuka enam belas pelabuhan di  Jawa untuk kegiatan tersebut
              yang salah satunya adalah   pelabuhan  Cilacap. 24
                   Bagi Rochussen, yang pada tahun 1858 telah memangku jabatan
              sebagai Menteri Urusan Tanah Jajahan, tidak mudah untuk meyakinkan
              pihak Eerste Kamer di  Den Haag agar menyetujui pembukaan keenam belas
              pelabuhan di  Jawa tersebut. Pembicaraan dalam sidang-sidang Eerste Kamer
              mengenai laporan Komisi Anggaran Negara 1859 nampaknya berujung
              pada keberatan terhadap keinginan pihak pemerintah untuk membuka
              pelabuhan-pelabuhan kecil di  Jawa dan luar  Jawa. Kalangan anggota Eerste
              Kamer merasa khawatir bahwa pembukaan pelabuhan tersebut nantinya



                 22  Zuhdi, op. cit., hlm. 21
                 23  Besluit. 29 November 1874 No. 1.
                 24  Mr. P Mijer. Over het openstellen van kusthavens voor den algemeene handel in Nederlandsch-
              Indie. (‘sGravenhage: Martinus Nijhoff, 1859), hlm. 4.


              92
   105   106   107   108   109   110   111   112   113   114   115