Page 456 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 456

PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI

            kasus di perusahaan besar dengan 8 buah pabrik yang terintegrasi
            dan mendayagunakan lebih dari 5000 karyawan.  Meskipun kasus ini
            tidak semata-mata bersinggungan dengan aspek teknologi informasi
            secara an sich, tetapi mungkin bisa memberikan gambaran tentang
            harapan manajemen korporasi terhadap peran psikolog sekaligus
            juga memperluas cakrawala pandang dunia psikologi.
                 Pada tahun 80-an, manager “Roll Turning Shop” di sebuah pabrik
            baja berkonsultasi bahwa banyak anak buahnya yang mengalami
            gangguan jiwa sehingga produktivitas kerjanya menurun drastis.
            Beberapa  crane operator  mengeluh melihat kepala bergelayutan
            atau melayang-layang di langit-langit pabrik. Perlu diketahui bahwa
            pabrik yang mengolah besi baja tersebut tidak kurang dari 1 km
            panjangnya. Mereka bekerja dalam 3 shift, dengan kondisi pabrik
            yang lengang dan sistem komputer yang masih konvensional. Catatan
            lain menunjukkan bahwa di ruang kerja para crane operator ataupun
            mekanik banyak coretan  grafi ti dalam bentuk ungkapan perasaan
            ataupun gambar-gambar seronok. Berbagai upaya telah dilakukan
            manajemen pabrik, mulai cara tradisional mengundang ulama untuk
            mengusir roh jahat, berbagai pelatihan dan motivasi, sampai dengan
            mengirimkan beberapa karyawan yang terganggu ke Rumah Sakit Jiwa
            dan Sanatorium di Jakarta. Namun begitu dipekerjakan lagi di pabrik
            tersebut, yang bersangkutan kambuh lagi. Sampai ada karyawan
            yang bunuh diri dengan menabrakkan diri di rel kereta api. Akhirnya
            psikolog beserta tim diterjunkan untuk membantu melakukan
            observasi di pabrik dalam tenggat waktu sekitar 6 bulan.  Tim
            tersebut bersepakat bahwa yang menjadi objek penelitian bukanlah
            manusianya secara an sich, melainkan aspek pendukung operasional
            pabrik tersebut secara keseluruhan. Baik dari sudut organisasi,
            pengembangan karir, fasilitas, ilumination, temperatur, noise, sampai
            dengan  workplace design dan  psychoergonomy. Ringkas cerita,
            temuan tim cukup mengejutkan bagi direksi dan jajaran manajemen
            perusahaan tersebut. Disampaikan bahwa penyebab gangguan
            mental para mekanik dan crane operator tadi adalah suasana monoton
            dan kesepian (loneliness). Pabrik yang luas tanpa alat informasi dan
            komunikasi yang memadai sangat mengganggu kenyamanan kerja
            mereka. Selain itu, ditemukan juga ada pengaruh yang signifi kan
            bagi aspek kejiwaan karyawan, yaitu sistem penerangan. Beberapa



          424
   451   452   453   454   455   456   457   458   459   460   461