Page 454 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 454
PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI
pada pengurangan aktivitas fi sik dan kebijakan pemutusan hubungan
kerja (PHK) para karyawannya. Di bidang pendidikan, mungkin tidak
asing lagi bahwa para siswa SD sudah mulai mengenal pengoperasian
gadget sehingga mereka bisa seharian, baik secara individual maupun
berkelompok, menjelajah dunia maya, lalu mendapatkan berbagai
informasi baik yang positif maupun negatif. Mereka terbiasa melahap
seluruh informasi yang dilihatnya tanpa pikir panjang. Di pihak yang
lain, belum semua orangtua dan guru mampu melakukan pengawasan
serta bimbingan secara intensif. Sehingga banyak anak kecil yang
melakukan imitasi (copying process) berbagai tindakan negatif,
termasuk tindakan asusila, kekerasan, sampai perilaku kriminal.
Masalah lain yang tidak kalah membahana adalah kecenderungan
berpotret-ria menggunakan ponsel di berbagai kalangan masyarakat
dengan motif beragam. Mode “ selfi e” telah meruyak di seantero
kehidupan masyarakat, sehingga mereka tidak lagi peduli apakah
tempat selfi e itu merupakan cagar budaya, tempat suci, ataupun
tempat yang berbahaya bagi keselamatan jiwanya. Sebuah perilaku
yang cukup mencemaskan. Semua tengara itu adalah tantangan
kemanusiaan yang sudah barang tentu membutuhkan pemahaman
dan pengelolaan cermat, akurat dan menyeluruh. Mengapa begitu?
Karena jangan sampai kehadiran teknologi informasi menjadi
ancaman dalam perkembangan peradaban bangsa.
Cakrawala Pandang Psikologi
Sebuah keniscayaan yang tidak terhindarkan oleh siapapun
ialah bahwa teknologi informasi akan selalu mengiringi tumbuh
kembangnya ilmu pengetahuan yang mengantarkan kemanfaatan
serta membangun peradaban bangsa-bangsa di muka bumi ini.
Demikian pula dengan perkembangan Indonesia di dalam kancah
internasional. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu
menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi dengan seksama, kemudian
mengimplementasikan bagi kesejahteraan dan kebahagiaan rakyatnya.
Di sisi lain, pertumbuhan teknologi tidak mungkin beriringan dengan
perkembangan mental kepribadian manusia secara keseluruhan.
Selalu ada celah kesenjangan. Oleh karena itu, untuk membangun
bangsa yang bermartabat dan sederajat dengan bangsa lain di dunia,
422

