Page 455 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 455
“Serapan Teknologi Informasi” dan Tantangan Profesi Psikologi:
Catatan Kecil Seorang Praktisi
tidak ada resep yang lebih mujarab daripada membangun sumberdaya
manusia dengan seksama. Begitu pula tantangan bangsa Indonesia
saat ini dan ke depannya.
Dalam perspektif ini, tidak bisa dipungkiri bahwa peran psikologi
dibutuhkan masyarakat untuk menjawab tantangan kemanusiaan.
Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia makin menumpukan
harapannya kepada psikologi. Lewat berbagai tayangan di media
ditunjukkan bahwa psikolog mampu merajut dengan cermat, sifat,
sikap dan perilaku dalam kisi-kisi kehidupan manusia dengan
lingkungannya. Sebuah tantangan berat tetapi perlu dijawab lugas.
Kendati secara jujur harus diakui kebenaran ucapan Ignas Kleden,
“pengertian kita tentang manusia tak pernah benar-benar terang
benderang bagaikan siang hari bolong, tetapi selalu berada dalam
kawasan yang remang. Oleh karena itu, mencermati tentang manusia
sesungguhnya adalah upaya untuk memahami manusia dengan
segala aspeknya” (Soemantri, 2004). Bahkan Profesor Dr Slamet
Iman Santosa, pendiri fakultas Psikologi UI, setengah berseloroh
mengatakan: “Tanggung jawab psikolog itu berat. Karena jika dokter
salah membuat diagnosis, kemungkinan pasien meninggal dunia. Tetapi
jika psikolog salah membuat diagnosis, maka klien menderita seumur
hidupnya.” (Soemantri, 2004). Peran psikolog sedemikian strategis
dalam percaturan dunia seiring kemajuan teknologi informasi. Karena
tidak mustahil bahwa hambatan dalam memanfaatkan teknologi
informasi akan menimbulkan penderitaan berkepanjangan, seperti
diungkapkan Profesor Slamet Iman Santosa.
Sejauh ini banyak permasalahan psikologis yang timbul dalam
perspektif pembangunan manusia seutuhnya. Bahkan Pemerintah
pun terkadang masih tergagap-gagap dalam menyelesaikannya.
Namun di sisi lain, seringkali profesi psikologi terjebak oleh kegiatan
mikro, baik di bidang pendidikan, pelatihan, konseling, seleksi dan
rekrutmen, healing therapy serta kaidah-kaidah teoretik tentang
pengembangan SDM dan organisasi. Akibatnya mereka tidak memiliki
waktu cukup untuk memperluas cakrawala pandangannya demi
kemaslahatan bangsa. Untuk sekedar memberikan gambaran betapa
peluang sumbangsih dunia psikologi masih terbuka lebar, ada baiknya
disampaikan bagaimana psikolog menangani aspek kemanusian di
sebuah industri berat dengan risiko kerja tinggi (high risk job), sebuah
423

