Page 452 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 452

PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI

            mengadopsi teknologi digital dalam beragam aspek kehidupannya.
            Mereka sedemikian gesit mengejar ambisi, mengutamakan kehidupan
            individual dalam meraih prestasi ketimbang berlama-lama diskusi
            dalam jaringan kerjasama  face to face. Melalui penggunaan piranti
            teknologi informasi, mereka mampu mengubah persepsi dan mindset
            tentang pola organisasi dan kepemimpinan, baik di lini bisnis maupun
            sosial politik. Hal tersebut telah dibuktikan dengan runtuhnya
            dominasi produk Jepang dan digantikan dengan produk Korea.
                 Bahkan lewat dunia maya, mereka mampu mengubah pola
            pikir yang semula statis dan administratif ke arah berpikir taktis
            dan strategis. Selain itu, mereka menjadi lebih inspiratif, memiliki
            keterampilan interpersonal yang kuat, memiliki visi, misi dan
            strategi serta antusiasme dan sikap tegas, apabila dibandingkan
            dengan generasi sebelumnya. Dari perspektif psikokultural, telah
            dibuktikan dengan keruntuhan dominasi bisnis dan produk
            industri Jepang digantikan oleh kehadiran industri dan bisnis yang
            menggurita dari negeri Ginseng, Korea. Sekedar ilustrasi, selama
            ini Jepang yang didominasi tenaga kerja uzur masih menyisakan
              stigma “ewuh-pekewuh” kepada para seniornya, dan bahasa yang
            disusun pun dengan tutur kata lembut. Setiap temuan baru harus
            dikonsultasikan terlebih dulu dengan para seniornya, dirapatkan
            atau diseminarkan. Sehingga saat Jepang mengumumkan sebuah
            temuan baru, kompetitornya dari negeri Ginseng telah lebih dulu
            memasarkan produknya. Demikian pula kecenderungan bangsa
            Indonesia beberapa waktu silam. Belum banyak yang memanfatkan
            “ teleconference” sehingga sistem pelaporan menjadi lebih panjang
            dan memungkinkan terjadinya laporan “Asal Bapak Senang”. Dalam
            penyusunan program juga sering ditemukan bahasa euphimisme atau
            menggunakan jargon yang sulit diukur.
                 Oleh karenanya, masyarakat modern bersepakat bahwa peman-
            faatan teknologi informasi diupayakan sebagai terobosan untuk
            mengejar peradaban sekaligus menghapus kecenderungan hidup
            yang kontra-produktif. Bahkan melalui kemajuan teknologi informasi
            diharapkan pola kepemimpinan dalam ketatanegaraan maupun sistem
            organisasi korporasi tidak lagi harus bertatap muka dengan gaya yang
            aristokratik. Dengan sendirinya, birokrasi yang berkepanjangan dari
            waktu ke waktu bisa dipangkas menjadi lebih efi sien.



          420
   447   448   449   450   451   452   453   454   455   456   457