Page 352 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 352
PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI
ini menunjukkan bahwa aspirasi dalam medium digital memiliki
kekuatan yang berperan sebagai instrumen perubahan sosial.
Meskipun sulit untuk diketahui secara pasti berapa persentase
(%) dampak yang ditimbulkan oleh aspirasi dalam medium digital,
namun peranan netizen dalam memberikan kritik sosial dan politik
tidak dapat dipandang sebelah mata. Suara yang digaungkan oleh
netizen menjadi sebuah aspirasi dalam bentuk medium digital.
Saya lebih memilih untuk menyebut aspirasi ini sebagai aspirasi
sosial-digital. Apa manfaat dari hadirnya aspirasi sosial-digital bagi
Indonesia? Saya mencoba menyorot dari sudut pandang demokrasi
dan politik. Jika saat ini partai politik, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
dan Pemerintah masih sulit dan selalu berdebat mengenai apa yang
dimaksud dengan “ suara rakyat”, maka aspirasi sosial-digital dapat
menjadi pintu masuk untuk memahami apa yang dimaksud dengan
suara rakyat. Ketika aspirasi sosial-digital dapat dianalisis dan diukur
secara valid, maka defi nisi tentang “ suara rakyat” yang menjadi pilar
utama demokrasi tidak lagi menjadi sesuatu yang blurred, namun
dapat didefi nisikan dan terukur secara jelas. Aspirasi sosial-digital
hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari kicauan di Twitter, status
Facebook hingga meme. Secara populer, meme dipahami sebagai
kombinasi gambar dan kata-kata yang dibuat dengan beragam makna
hingga menciptakan impresi tertentu. Meskipun terlihat abstrak,
berbagai bentuk aspirasi sosial-digital memiliki makna yang harus
diperhitungkan. Pertanyaannya adalah, bagaimana mengelola makna
pada aspirasi sosial-digital menjadi sebuah instrumen yang tajam
dan mampu menghasilkan perubahan sosial?
Psikologi Memahami Aspirasi Sosial-Digital
Masyarakat Indonesia
Sebagai salah satu cabang dari ilmu perilaku, Psikologi memiliki
tugas utama memahami perilaku manusia. Perilaku yang dipahami
oleh psikologi adalah kombinasi dari proses berpikir, bersikap hingga
emosi yang dirasakan oleh individu (Fiske & Taylor, 2008). Melalui
defi nisi keilmuannya, psikologi harus bisa membantu menjelaskan
dan memahami mengenai aspirasi sosial-digital masyarakat Indonesia.
Namun, agar mampu berfungsi sebagai pisau analisis yang tajam,
320

