Page 356 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 356
PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI
setiap penulisnya, yaitu John Lennon, Paul McCartney dan George
Harrison. Perbedaan karakter psikologis tercermin dalam berbagai
variabel seperti orientasi waktu, emosi hingga intelektualitas.
Studi lain yang mengkaji sumber teks juga pernah dilakukan oleh
Cohn, Mehl dan Pennebaker (2004) dengan tujuan mengidentifi kasi
trauma healing masyarakat Amerika paska peristiwa teror 9/11,
yaitu runtuhnya gedung WTC di Amerika Serikat akibat tertabrak
pesawat penumpang yang diduga sengaja ditabrakkan oleh terduga
teroris. Studi dilakukan dengan mengumpulkan berbagai tulisan di
blog yang dibuat oleh warga Amerika sesaat sesudah peristiwa 9/11
berlangsung hingga tiga bulan setelahnya. Data berupa tulisan di
blog tersebut selanjutnya dianalisis menggunakan Linguistic Inquiry
and Word Count (LIWC; Tausczik & Pennebaker, 2010). LIWC adalah
software analisis yang mampu mengidentifi kasi muatan psikologis
pada esai dengan teknik word count atau perhitungan sampel kata.
Hasil studi menunjukkan bahwa muatan emosi negatif pada blog yang
ditulis oleh warga Amerika menunjukkan penurunan yang signifi kan
dua hingga tiga bulan setelah peristiwa 9/11. Studi ini memberikan
sebuah masukan berharga bahwa secara kolektif masyarakat memiliki
mekanisme trauma healing yang terkadang luput diidentifi kasi oleh
psikolog. Terlepas dari itu, kedua studi menunjukkan bahwa sumber
teks menjadi data psikologis yang dapat merepresentasikan keadaan
emosi hingga karakter individu maupun kelompok.
Dalam konteks aspirasi sosial-digital, analisis teks adalah salah
satu solusi untuk memahaminya. Namun, perbedaan bahasa menjadi
variabel yang menghambat aplikasi instrumen analisis teks yang
telah ada seperti LIWC untuk diterapkan dalam konteks Indonesia.
Bagaimana solusinya? Studi yang dilakukan oleh Wenas, Sjahputri,
Takwin, Primaldhi dan Muhamad (2016) telah mencoba mengidentifi kasi
muatan emosi pada 3000 sampel kata bahasa Indonesia dan emoticon
dari sumber Twitter. Teori yang digunakan sebagai perangkat analisis
adalah teori emosi core affect dengan dua aspek utama, yaitu valensi
dan arousal (Russel, 2003; 2009). Instrumen ini disebut dengan nama
Algoritma Kata (AK). Dalam konteks bahasa Indonesia, AK hadir sebagai
solusi untuk mengidentifi kasi berbagai sumber teks dalam bahasa
Indonesia. Salah satu studi dengan menggunakan AK telah dilakukan
oleh Adinugroho, Muhamad dan Susianto (2015) untuk menganalisis
324

