Page 355 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 355
Mengelola Aspirasi Sosial-Digital Masyarakat Indonesia
sebagai Instrumen Perubahan Sosial
Bates, 2012). Dengan kehadiran inovasi teknologi dan media sosial,
ilmuwan psikologi dan psikolog tidak perlu meminta data psikologis
dari partisipan. Semua sudah tersedia melalui media sosial. Namun,
bagaimana menciptakan instrumen analisis yang tepat untuk
menganalisis data-data tersebut? Itulah yang harus menjadi pekerjaan
rumah bagi psikolog dan ilmuwan psikologi di Indonesia.
Kontribusi Psikologi dalam Mengelola Aspirasi Sosial-
Digital
Guna menjawab pertanyaan mengenai instrumen analisis, mari
kita mulai dengan membedah secara detil komponen-komponen
konkret yang berkaitan dengan data yang dapat menjadi cue psikologis
pada media sosial (medium digital). Komponen paling utama adalah
eksistensi kata-kata yang dikombinasikan menjadi sebuah teks.
Dalam konteks Facebook dan Path, teks yang ditulis oleh pengguna
disebut status.Sedangkan dalam konteks Twitter, teks dapat disebut
tweet atau kicauan. Status merupakan tulisan mengenai keadaan
dari pengguna dalam berbagai situasi. Status tidak hanya berfungsi
sebagai medium psikologis yang berisi “curahan hati” individu, namun
juga memiliki fungsi aspirasi yang mempertemukan dan membentuk
kelompok-kelompok sosial baru dengan tujuan yang berbeda-beda.
Komponen kedua adalah gambar, baik meme atau foto yang diunggah
oleh pengguna media sosial sebagai representasi keadaan diri, tujuan
hidup dan berbagai aspek lain dari kehidupan pribadinya. Kedua
komponen ini baik teks maupun gambar harus dapat dianalisis oleh
Psikologi sebagai data yang merepresentasikan keadaan psikologis
individu atau kelompok.
Seorang psikolog dari University of Austin Texas, James W.
Pennebaker, telah mulai memahami manusia dari sumber teks
yang ditulis atau dihasilkannya ( Pennebaker & King, 1999; Petrie,
Pennebaker & Sivertsen, 2008). Salah satu studi terkait analisis
teks adalah analisis terhadap lirik lagu The Beatles yang dilakukan
oleh Petrie, Pennebaker, dan Sivertsen (2008). Tujuan utamanya
adalah mengidentifi kasi bagaimana lirik lagu The Beatles mampu
memberikan pengaruh sosial yang cukup besar di London. Hasilnya,
lirik lagu menunjukkan karakteristik psikologis yang berbeda dari
323

