Page 348 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 348

PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI

            demikian? Mungkin generasi saat ini yang ketika itu masih duduk di
            bangku sekolah tidak merasakan dampak langsung dari eksistensi
              Orde Baru. Namun, bagi sebagian besar aktivis dan pendidik yang
            peduli akan kemanusiaan dan perkembangan bangsa, masa itu adalah
            masa paling sulit bagi mereka karena adanya berbagai pembatasan
            dan larangan terhadap pergerakan sosial, wacana akademis hingga
            ajaran-ajaran yang dianggap mengkritik Pemerintah saat itu. Orde
            baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto secara ilmu politik
            disebut juga sebagai rezim totaliter. Totaliter dalam konteks Soeharto
            memiliki makna bahwa pemimpin adalah pusat dari segala kemajuan
            bangsa. Konsekuensi dari defi nisi ini adalah munculnya berbagai hal
            yang merugikan masyarakat umum. Misalnya, eksistensi organisasi
            masyarakat dan mahasiswa yang ditekan karena dianggap sebagai
            ancaman, adanya dwifungsi ABRI dimana ABRI berfungsi sebagai
            kekuatan militer dan politik, monopoli massa yang dilakukan Partai
            Golkar sebagai partai pemenang pemilu dimana seluruh pegawai negeri
            sipil wajib menjadi kader partai, pembatasan hingga “pembredelan”
            berbagai media berita, hingga  political brain washing  yang
            menampilkan fi lm G30SPKI setiap tahunnya. Selain berbagai aktivitas
            tersebut, Pemerintah juga memproduksi sebuah institusi resmi yang
            memiliki fungsi pencitraan politik bernama Departemen Penerangan.
            Departemen Penerangan memiliki fungsi mendistribusikan informasi
            mengenai seluruh aktivitas Negara, mulai dari aktivitas Presiden
            hingga kebijakan yang dibuat oleh Negara. Ketika ada informasi yang
            bukan berasal dari Departemen Penerangan, maka informasi tersebut
            diklaim tidak sahih oleh Negara.
                 Begitu derasnya pembatasan aktivitas rakyat hingga tekanan
            sosial terhadap kebebasan berpendapat yang terus terjadi pada
            masa  Orde Baru. Pada akhirnya, “ kesabaran kolektif” rakyat pun
            memiliki batas. Melalui perbincangan dan diskusi terselubung dalam
            berbagai tempat seperti universitas, lembaga swadaya masyarakat
            (LSM) hingga berbagai partai politik yang belum diakui Negara,
            akhirnya tercetuslah  perubahan sosial masif pada bulan Mei tahun
            1998. Demonstrasi skala besar yang digalakkan oleh mahasiswa
            dari berbagai penjuru Indonesia hingga aktivitas menduduki gedung
            DPR/MPR terjadi pada bulan Mei 1998. Semuanya dilakukan demi
            lengsernya pemimpin tertinggi  Orde Baru yaitu Presiden Soeharto.



          316
   343   344   345   346   347   348   349   350   351   352   353