Page 277 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 277

Kepercayaan Konsumen terhadap Pusat Perbelanjaan Digital di Indonesia

               vendor tidak dapat memenuhi apa yang ia cari. Secara alamiah,
             relasi dan afeksi pada konsumen dan  vendor tidak dapat terjalin
             dalam jangka waktu yang lama karena koridor transaksi ekonomi
             ini. Dengan kata lain, dalam relasi  vendor dan konsumen, tidak ada
             kualitas relasi, keintiman, dan ekspansi hubungan interpersonal
             yang terbangun seperti halnya yang terjadi pada relasi interpersonal.


             Strategi Vendor dalam Membentuk Kepercayaan
             Konsumen

                  Gao dan Wu (2010) menjelaskan sebuah model kognitif mengenai
             terbentuknya kepercayaan dalam  transaksi perdagangan elektronik.
             Mereka menjelaskan bahwa persepsi terhadap informasi dan
             kemampuan situs penyedia dalam menjawab kebutuhan konsumen
             merupakan prediktor terciptanya kepercayaan pada konsumen. Jones
             dan Leonard (2014) menulis beberapa hal yang secara signifi kan
             dapat mempengaruhi kepercayaan konsumen dalam perdagangan
             elektronik adalah persepsi terhadap kualitas situs,  familiaritas situs,
             kekuatiran terhadap kejujuran pemilik situs, keakuratan informasi
             yang didapatkan dan keamanan transaksi.
                  Namun demikian, Eid (2011) menjelaskan bahwa kepercayaan
             konsumen hanya berkorelasi lemah terhadap loyalitas konsumen
             dalam sebuah  transaksi perdagangan elektronik. Loyalitas konsumen
             lebih ditentukan oleh kepuasan konsumen terhadap layanan dari
             situs tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa diperlukan sebuah
             usaha untuk membentuk kepercayaan konsumen terhadap situs
             tersebut. Usaha untuk meyakinkan bahwa transaksi ekonomi dalam
             perdagangan elektronik merupakan transaksi yang dapat dipercaya.
             Dengan kata lain,  vendor harus memastikan kepuasan konsumen
             dalam setiap satuan transaksi.
                  Dalam konteks perdagangan elektronik, kepercayaan dapat
             dibentuk setiap saat dan bersifat  fl uktuatif (Chadwick, 2001). Hal
             ini disebabkan karena kepercayaan dalam perdagangan elektronik
             berbeda dengan kepercayaan dalam hubungan relasional yang
             bersifat tatap muka (face to face). Kepercayaan dalam perdagangan
             elektronik mereduksi potensi terjadinya keterikatan intim, karena
             jenis interaksi yang dibangun berfokus pada barang atau jasa yang




                                                                                      245
   272   273   274   275   276   277   278   279   280   281   282