Page 275 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 275
Kepercayaan Konsumen terhadap Pusat Perbelanjaan Digital di Indonesia
untuk mengandalkan atau favorabilitas terhadap atribut-atribut yang
dimiliki oleh vendor, seperti sejauhmana ia akurat, tepat waktu, aman,
terbuka, informatif, jujur, dan konsisten (Steward, 1999). Beberapa
peneliti lain yang mendalami kajian tentang kepercayaan virtual,
memilih untuk tidak secara khusus mendefi nisikan kepercayaan
(Cranor, 1999). Menurut hemat saya, hal ini disebabkan karena
adanya perbedaan perspektif dari para ahli dalam memandang
kepercayaan. Para ilmuwan psikologi memandang kepercayaan
sebagai konstruk psikologis (psychological trait), sedangkan ilmuwan
sosiologi memandang kepercayaan sebagai struktur sosial, dan para
ekonom memandang kepercayaan sebagai bagian dari mekanisme
pengambilan keputusan ekonomi. Hal ini memungkinkan bahwa
pandangan dari satu bidang ilmu tidak serta merta dapat dipahami
dan diapresiasi oleh ilmuwan dari bidang ilmu yang lain. Kritik Lewis
dan Weigert (1985) misalnya, dengan pendekatan sosiologisnya
berpendapat bahwa pandangan para ilmuwan psikologi mengenai
kepercayaan sebagai sifat (trait) tidak cukup valid karena kepercayaan
tidak dapat direduksi sebagai karakteristik personal. Pendekatan
yang monodisipliner memiliki banyak keuntungan, tetapi juga sarat
keterbatasan.
McKnight dan Chervany (2002) memperkenalkan model yang
lebih komprehensif dan interdisipliner, dengan menggabungkan
kepercayaan disposisional dari perspektif psikologi, kepercayaan
institusional dari perspektif sosiologi, dan kepercayaan interpersonal
dari perspektif psikologi sosial. Kepercayaan yang dilihat dari perspektif
multidisipliner ini juga telah divalidasi secara empiris sebagai konstruk
multidimensional (McKnight, Choudhury, & Kacmar, 2002). Dalam
perspektif ini, kepercayaan elektronik didefi nisikan sebagai rasa
aman, nyaman, dan terjamin dari konsumen terhadap vendor dalam
risiko yang terkontrol. Artinya, dalam konteks perdagangan digital,
elemen rasa aman dan sekuritas merupakan hal yang tidak dapat
ditawar, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat risiko yang
dihasilkan dari ketidakpastian. Maka, di titik ini kepercayaan digital
juga berbicara mengenai sejauhmana konsumen dapat memanajemen
risiko dari prospek transaksi ekonomi yang akan dilakukan.
Jadi meskipun memiliki prospek yang cerah, para pelaku usaha
perdagangan elektronik tetap menghadapi tantangan yang lebih berat
243

