Page 185 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 185
Radikalisasi Online Kelompok Teroris di Indonesia
Pertanyaan penting dalam hal ini apakah Internet telah
menggantikan face to face radicalization? Dalam kasus di Indonesia,
Sidney Jones (IPAC, 2015) menolak kesimpulan bahwa radikalisasi
online telah menggantikan face to face radicalization. Menurutnya
Internet baru sebatas menjadi media yang memudahkan untuk
mempertemukan dan menghubungkan, akan tetapi proses tatap muka
masih terjadi dan diperlukan dalam proses radikalisasi. Benarkah
demikian?
Telah dijelaskan bahwa Internet berfungsi sebagai venue yang
menyatukan ikatan sekelompok orang yang memiliki ketertarikan
terhadap ideologi yang sama (Bott, et al., 2009; Kohler, 2015).
Artinya, Internet menjadi wadah persemaian dan tumbuhnya ideologi
hingga merekah. Selain itu, Internet juga dapat mengintensifkan
pembentukan identitas bersama melalui polarisasi antar kelompok
(Bott et al., 2009). Proses tersebut dapat membantu memfasilitasi
para rekruter dari kelompok radikal untuk menarik para kandidat
potensial.
Peran Internet telah dapat menggantikan venue tradisional dari
kelompok jihadis, yaitu medan jihad. Medan jihad yang dimaksud
dapat berupa wilayah konfl ik atau camp pelatihan militer atau i’dad
yang menjadi tempat bertemunya para jihadis dari berbagai kelompok
bahkan dari seluruh penjuru dunia. Medan jihad seperti juga Internet
dapat menjadi inkubator radikalisasi. Internet menjadi media
inkubator radikalisasi melalui diskusi dan propaganda, sementara
pelatihan berulang dan pengalaman tempur yang disediakan menjadi
medan jihadnya. Keduanya sama-sama menyediakan tempat bagi
interaksi dan komunikasi yang intensif berbasis ideologi.
Pertanyaan terakhir yang juga penting untuk dijawab dalam
masalah ini adalah sejauh mana peran Internet dalam aksi kolektif?
Dari berbagai studi yang telah berhasil dirangkum dapat dijelaskan
bahwa Internet berperan sebagai pendukung yang mengakselerasi
aksi kolektif (Bott et al., 2009). Kohler (2015) menjelaskan bahwa
Internet juga dapat memberikan persepsi keberadaan massa yang
kritis dalam pergerakan sehingga dapat memotivasi mereka yang
bergabung dalam diskusi untuk lebih jauh terlibat dalam aksi. Akan
tetapi, seberapa kekuatan Internet dalam mendorong aksi kolektif
153

