Page 180 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 180

PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI

                 Lebih lanjut dapat diterangkan bahwa peran kelompok yang
            kontradiktif menjadi krusial untuk menjelaskan pola dan mekanisme
            dalam proses radikalisasi. Dalam proses radikalisasi  face to face,
            kelompok memainkan peran penting, sementara dalam proses radi-
            kalisasi  online peran kelompok tersebut justru dapat dieliminasi.
            Meskipun demikian, masih tersisa pertanyaan penting dalam studi ini
            yang belum dapat dijelaskan, benarkah Internet dapat menggantikan
            sepenuhnya peran kelompok dalam proses radikalisasi?
                 Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penting untuk dijelaskan
            bagaimana mekanisme yang terjadi saat Internet digunakan sebagai
            media utama dalam proses radikalisasi. Telah disebutkan oleh Bott,
            et al. (2009) bahwa Internet memainkan peran dalam membentuk
            ikatan sosial dalam radikalisasi dan rekrutmen. Internet menjadi
            hub, sehingga ikatan sosial dapat terbentuk dan dipertahankan,
            struktur berkembang serta pesan dapat dijamin terus mengalir di
            dalamnya. Ikatan sosial yang terbentuk dapat berkembang sangat
            dinamis disebabkan  aksesibilitas yang dimiliki Internet sangat tinggi.
            Hal ini memungkinkan ide menyebar dengan cepat dan kemungkinan
              keterhubungan menjadi tidak terbatas. Jika sekumpulan anak
            muda yang memiliki ketertarikan pemikiran yang sama, ketertarikan
            pada isu yang sama, serta memiliki kecenderungan yang sama pada
            cara mencapai tujuan, cara memandang dan menyelesaikan suatu
            masalah bertemu, maka kelompok tersebut akan rentan mengalami
            proses radikalisasi.
                 Selain itu, melalui mekanisme yang khas dimana ikatan sosial
            bersifat sangat dinamis, Internet juga membuka peluang pada  self
            radicalization (ADL, 2013; Behr, Reding, Edwards, & Gribbon, 2013;
            Bott, et al.., 2009). Yang menjadi paradoksal disini adalah penjelasan
            tentang peluang terjadinya  self radicalization. Sementara struktur
            ikatan berkembang sangat dinamis dan meluas,  self radicalization
            justru hanya membutuhkan  ikatan  dyadic  yang kuat, dekat serta
            bersifat tertutup. Dalam hal ini Internet mampu menyediakan
            spektrum yang sangat bervariasi dalam pembentukan ikatan. Ikatan
            yang terbentuk dapat bersifat luas dan dekat, terbuka atau tertutup
            sekaligus. Dalam proses radikalisasi  online, struktur jejaring yang
            terbentuk sebagian besar bersifat  leaderless dengan tetap menjamin





          148
   175   176   177   178   179   180   181   182   183   184   185