Page 182 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 182

PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI

            jihad, sudah mengalami pergeseran. Keterlibatan mereka saat ini
            tidak dapat sepenuhnya dikatakan sebagai korban. Mereka adalah
            kelompok yang melakukan upaya aktif bergabung dengan kelompok
            radikal dan terlibat langsung mengambil peran (IPAC, 2015). Saat ini
            terdapat beberapa narapidana teroris perempuan baik yang masih
            dalam tahanan maupun telah dibebaskan. Mereka merupakan istri
            dari para suami yang terlibat kasus terorisme, dimana keterlibatan
            mereka diidentifi kasi lebih aktif dalam mendukung kegiatan suami
            mereka dalam kelompok.
                 Tersedianya akses melalui media  online meningkatkan peluang
            semakin meluasnya kalangan yang tergabung dalam kelompok
            radikal. Dalam face to face radicalization susah menemukan kelompok
            radikal karena sifatnya yang tertutup dan rahasia. Jika sebelumnya
            dan dalam  face to face radicalization mereka harus melalui proses
            seleksi untuk dapat bergabung, dalam media  online proses seleksi
            tersebut telah tereliminasi. Internet menyediakan kebebasan dan
              anonimitas sehingga memudahkan siapa saja untuk bergabung,
            termasuk mereka yang memiliki sumber daya yang terbatas hingga
            masalah hambatan komunikasi. Sifat Internet yang menyediakan
            kebebasan dan  anonimitas meminimalisir ketakutan ditolak bahkan
            dikeluarkan dari kelompok.
                 Selain itu, media  online juga dapat membentuk persepsi tanpa
            batas. Seseorang yang berkomunikasi melalui media  online merasa
            lebih bebas dalam mengekspresikan apa saja. Mengapa mereka bisa
            menjadi lebih bebas dan radikal dalam mengekspresikan ideologi?
            Kohler (2015) menjelaskan bahwa dalam media  online  muncul
            perasaan lebih bebas.  Melalui media  online mereka merasa dapat
            memperlihatkan pandangan ideologinya melalui aktivitas non politik,
            tanpa kekhawatiran dikucilkan atau dikeluarkan dari kelompok.
            Mereka juga merasakan berada dalam kelompok massa yang kritis,
            yang membuat mereka semakin merasa perlu mendorong keterlibatan
            mereka lebih jauh ke dalam  aksi kolektif. Anonimitas memperkuat
            kesan tersebut. Bahkan seperti ditemukan oleh Kohler (2015), di
            Internet mereka yang berdiskusi merasa berada di wilayah di luar
            jangkauan hukum. Hal ini menyebabkan mereka semakin berani
            berbicara lebih bebas, lebih keras, dan lebih radikal.





          150
   177   178   179   180   181   182   183   184   185   186   187