Page 183 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 183
Radikalisasi Online Kelompok Teroris di Indonesia
Lone Wolf Terrorist dan Inkubator Radikalisasi
Pembahasan radikalisasi online tidak dapat dipisahkan dari
fenomena lone wolf terrorist. Mengapa? Karena Internet diduga telah
meningkatkan kemungkinan lahirnya lone wolf terrorist, yaitu mereka
yang tertarik dengan ideologi radikal dan ingin melakukan aksi, namun
tidak perlu mencari kelompok terlebih dahulu untuk mendukungnya.
Internet dinilai telah mampu mengganti peran kelompok dalam
berbagai level. Tidak heran jika hampir semua riset tentang lone wolf
terrorist bersandar pada radikalisasi melalui Internet (Kohler, 2015;
Pantucci, 2011; Teich, 2013).
Sebenarnya fenomena lone wolf terrorist bukanlah hal baru,
hanya saja di era ISIS ini gejala munculnya lone wolf terrorist semakin
bertambah. Jumlah orang yang terlibat dalam aksi serangan teror
semakin sedikit namun jumlah kejadian semakin meningkat (Teich,
2013). Hal tersebut dapat terjadi karena kelompok teroris seperti
ISIS menjadi semakin efi sien. ISIS merupakan kelompok teroris yang
sangat aktif menggunakan Internet untuk rekrutmen (ADL, 2014;
Vidino & Hughes, 2015), seperti yang terjadi pada para teroris yang
melakukan aksi teror di Amerika Serikat, Kanada dan beberapa
negara Eropa dalam kurun waktu dua tahun terakhir.
Nidar Malik Hasan, pelaku penembakan di Fort Hood, Texas yang
dikenal sebagai serangan teroris paling mematikan di Amerika Serikat
setelah 9/11, adalah salah satu contohnya. Ia diketahui melakukan
komunikasi aktif via Internet dengan tokoh kelompok radikal ( ISIS)
sebelum melakukan aksinya. Hasil dari penelusuran yang dilakukan
kemudian menunjukkan bahwa ia tidak pernah terlibat aktif secara
langsung dalam kegiatan dari kelompok tertentu (Gilsinan, 2016).
Fenomena pemanfaatan Internet tersebut bukan hanya milik ISIS
semata. Kelompok radikal dan teroris lainnya juga melakukan hal yang
sama. Sebelum ISIS, Al Qaida juga telah menggunakan Internet untuk
memanipulasi kegelisahan diantara anak-anak muda, meradikalisasi
mereka dan memberikan tujuan bermakna bagi mereka (Thompson,
2011).
Lone wolf terrorist atau pelaku teror yang beraksi seorang diri
tanpa dukungan kelompok dijelaskan oleh para ahli sebagai fenomena
yang berbeda dengan teroris yang mengalami proses radikalisasi
151

