Page 184 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 184
PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI
di dalam kelompok. Hasil dari studi tentang lone wolf terrorist yang
masih terbatas menemukan bahwa lone wolfterrorist cenderung
menunjukkan kepribadian dengan gejala psikopatologis, hal yang
tidak ditemukan pada mereka yang mengalami radikalisasi dan
bertindak dengan dukungan kelompok (Jasparro, 2010; Spaaij, 2010;
Teich, 2013). Bakker dan de Graaf (2011) membantah kesimpulan ini
dan menyatakan bahwa tidak semua lone wolf terrorist menunjukkan
gejala psikopatologis, karena sebagian dari mereka menunjukkan
kepribadian yang normal. Penjelasan yang tersedia tentang hal ini
adalah bahwa peran kelompok kemungkinan tidak absen sama sekali
pada lone wolf terrorist, sehingga faktor-faktor personal seperti gejala
psikopatologis tidak selalu memadai untuk menjelaskan kehadiran
mereka sebagai faktor tunggal.
Kemunculan lone wolf terrorist ini sering dikaitkan dengan self-
radicalization yang dapat terjadi karena bantuan Internet. Namun
Mc Carthy (2014) mempertanyakan fenomena tersebut. Ia justru
berargumen bahwa self-radicalization sebenarnya tidak pernah terjadi.
Menurutnya, meskipun seseorang melakukan aksi sendirian akan
tetapi proses radikalisasi yang dialami oleh seorang individu selalu
berkaitan dan melibatkan ideologi atau doktrin yang disediakan oleh
kelompok tertentu.
Namun terdapat perbedaan yang jelas antara lone wolf terrorist
dan teroris yang mendapat dukungan kelompok. Lone wolfterrorist
adalah individu yang aktif meradikalisasi diri, bukan dicari tetapi
mencari, tidak memiliki mentor yang melakukan indoktrinasi secara
langsung, dan tidak memiliki pemimpin yang memaksa komitmen
dan memberikan perintah. Dalam hal ini, proses ideologisasi tidak
dilakukan oleh kelompok. Sementara, dalam proses radikalisasi face
to face, kelompok memainkan peran aktif dalam proses ideologisasi.
Proses ideologisasi tersebut menjadi tahapan kritis yang akan
mendorong seseorang menjadi radikal.
Kemunculan lone wolf terrorist memang dapat menjelaskan peran
penting dari Internet, akan tetapi kemampuan Internet melebihi dari
sekedar melahirkan lone wolf terrorist. Internet menjadi media yang
mampu mengandung dan melahirkan para pejuang dari kelompok
radikal hingga teroris dengan variasi profi l yang sangat besar. Dengan
kata lain, Internet mampu berperan sebagai inkubator radikalisasi.
152

