Page 181 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 181
Radikalisasi Online Kelompok Teroris di Indonesia
ketersediaan doktrin ideology untuk mengondisikan agar proses
radikalisasi dijamin dapat terus berlangsung.
Selain penjelasan dari telaah teori terkait yang telah diuraikan
dalam bagian pendahuluan ini, diperlukan penjelasan lebih rinci
tentang sifat dan kekuatan media online, fenomena khas pada
radikalisasi online, serta studi kasus proses radikalisasi online untuk
memberikan gambaran lengkap tentang masalah radikalisasi online
pada kelompok teroris di Indonesia.
Kebebasan dan Anonimitas Media Online
Salah satu fenomena yang menonjol dalam perkembangan
radikalisme di Internet adalah semakin mudanya usia kandidat
dan semakin meningkatnya keterlibatan perempuan dalam gerakan
radikal (Bott, et al., 2009). Internet telah memberi peluang kepada
siapa saja untuk bergabung dengan kelompok radikal. Anak-anak
usia belia yang telah mengalami sosialisasi ideologi radikal sejak
kecil, mungkin tertarik pada gerakan radikal saat menginjak usia
remaja. Akan tetapi para anak muda bersemangat yang masih belia
ini pada umumnya akan mengalami kendala seleksi. Mereka yang
belum matang dan belum berpengalaman akan sulit mendapat peran
di dalam kelompok. Hal ini dapat dipahami karena kelompok radikal,
khususnya kelompok teroris, harus mempertahankan ciri robust
untuk menghindari kesalahan dan menjamin keberhasilan aksi
mereka (Dodds, Watts & Sabel, 2003). Akibatnya, anak-anak remaja
belia yang ingin bergabung dan terlibat langsung dalam aksi kolektif
dalam kelompok radikal kemungkinan akan diabaikan.
Melalui media Internet, halangan berupa seleksi penerimaan
dan penolakan tersebut tidak lagi ditemui. Hal yang sama juga
terjadi pada keterlibatan perempuan dalam kelompok radikal. Di
era periode gelombang jihad awal di Indonesia, perempuan nyaris
tidak pernah dilibatkan dalam kelompok radikal. Peran mereka lebih
sebagai pendukung yang buta. Mereka tidak mengetahui apapun
yang menjadi aktivitas suami dan kelompoknya, namun mereka
harus mendukung sepenuhnya tanpa boleh mempertanyakan (Abas,
2002). Di saat proses radikalisasi online semakin gencar, keterlibatan
perempuan dalam gerakan radikal, khususnya pada kelompok
149

