Page 41 - index
P. 41
BAB 22 • MASYARAKAT INFORMASI DAN NET GENERATION ...
terjadinya multiplikasi peran dan jati diri; (3) blurred boundaries and
transformed communities, batasan-batasan yang umumnya terdapat di
dunia nyata menjadi kabur dan komunitas virtual yang baru terbentuk
(lihat: Rettie, 2002).
Jadi, berbeda dengan penggunaan telepon yang hanya berfungsi
sebagai sarana telekomunikasi yang terbatas, internet pada hakikatnya
merupakan sebuah dunia imajiner, di mana setiap orang dapat melakukan
apa saja ketika mereka berselancar di dunia maya, bahkan melakukan
sesuatu yang mungkin belum pernah ada di dalam kenyataan sehari-hari.
Internet makin digemari masyarakat, karena ia sesungguhnya merupakan
subtitusi dari ruang publik nyata yang belakangan ini makin menghilang.
Kerinduan untuk bercengkerama dengan sesama, dan membangun
hubungan sosial dalam kelompok yang “akrab”, bagi masyarakat dapat
PRENADAMEDIA GROUP
terpenuhi dan mereka rasakan justru pada saat mereka ada pada kesen-
dirian di ruang kamar atau di kantor, yakni tatkala mereka berselancar
di dunia maya.
F. IDENTITAS DI DUNIA MAYA
Sebagai bagian dari perkembangan TI yang luar bisa pesat, kehadiran
internet beserta berbagai situs atau konten yang ada di dalamnya, bukan
saja telah melahirkan perubahan perilaku orang per orang, tetapi juga
perubahan di tingkat kelompok, dan bahkan dalam skala yang makin
mengglobal. Seperti dikatakan Piliang (2004), bahwa di era masyarakat
pasca-industri, perkembangan teknologi cyberspace telah melahirkan
berbagai perubahan dan setidaknya terdapat tiga tingkat pengaruh: (1)
di tingkat individual (personal); (2) di tingkat antar-individual (in-ter-
personal); dan (3) di tingkat masyarakat (social) (Piliang, 2004: 65-66).
Pertama, pada tingkat individu, cyberspace telah menciptakan per-
ubahan mendasar terhadap pemahaman kita tentang identitas. Setiap
individu dalam dunia virtual dapat membelah pribadinya menjadi pribadi
yang tidak terhingga banyaknya, sehinga terjadinya permainan identitas,
identitas baru, identitas palsu, identitas ganda, yang bisa saja sama atau
berbeda dengan identitas sosial di dunia nyata.
Kedua, pada tingkat interaksi sosial, kehadiran cybespace telah me-
lahirkan semacam deteritorialisasi sosial, artinya interaksi sosial tidak
dilakukan di dalam sebuah ruang teritorial yang nyata, tetapi di dalam
sebuah halusinasi teritorial: seseorang bisa saja terasa sangat intim dengan
orang lain di dunia maya yang ada di belahan dunia lain tanpa pernah
sekali pun bertemu, ketimbang saudara kandung atau tetangganya sendiri.
Ketiga, pada tingkat komunitas, kehadiran cyberspace dapat men-
355

