Page 40 - index
P. 40
SOSIOLOGI: TEKS PENGANTAR DAN TERAPAN
perkembangan teknologi informasi. Paul DiMagio, dkk. (2001), misalnya
menggambarkan bahwa di era masyarakat informasi, kehadiran internet
atau jejaring komputer di dunia maya memiliki potensi untuk secara
radikal mengubah tidak hanya bagaimana cara seseorang bertransaksi
bisnis dengan orang lain, tetapi juga esensi atau hakikat keberadaan
manusia di dalam lingkungan masyarakat (DiMagio, et al., 2001: 307-336).
Jejaring komputer yang semula hanya bisa diakses oleh sekelompok
kecil elite saja, menurut Smith dan Kollock (2005), kini penggunaannya
telah makin meluas, dan menjadi subjek perdebatan politik, kepentingan
masyarakat, serta menjadi bagian dari budaya populer. Berbagai istilah,
seperti cyberspace, net, online, dan web kini tidak lagi terasa asing di teli-
nga masyarakat, dan apa pun istilah yang digunakan, tampak jelas bahwa
kehadiran jejaring komputer telah membuat orang dapat menciptakan
PRENADAMEDIA GROUP
ruang sosial baru di mana mereka satu dengan yang lain dapat bertemu
dan saling berinteraksi satu sama lain di dunia maya yang lintas batas
dan melampaui ruang serta waktu (lihat: Smith & Kollock, 2005).
Dengan memanfaatkan jaringan media interaksi seperti email, chat
dan sistem konferensi seperti Usenet, orang telah membentuk ribuan
kelompok untuk membahas banyak topik, bermain game, saling meng-
hibur satu sama lain, dan bahkan bekerja pada proyek-proyek bersama
yang sulit. Di era pasca-industri, kehadiran jejaring komputer, bukan
hanya berperan sebagai media komunikasi saja, melainkan juga telah
menjadi media kelompok, yang mempertahankan dan mendukung lebih
banyak interaksi yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan masyarakat
sebelum mereka mengenal internet. Berinteraksi di dunia maya, selain
mengasyikkan, bebas, dan melampaui ruang dan waktu, sering kali juga
menjadi aktivitas yang menyenangkan, terutama ketika orang mulai
menyadari bahwa berselancar di dunia maya benar-benar membuat
mereka seolah-olah bisa menembus dunia.
Wilson (2000) mencatat paling tidak ada tiga karakteristik dari ko-
munitas virtual di cyberspace, yang membedakannya dengan komunitas
tatap muka, yaitu: (1) liberty, kebebasan dari kondisi sosial geografis
yang membatasi identitas yang melekat pada diri seseorang; (2) equality,
penghilangan hierarki yang berhubungan identitas yang melekat jadi ko-
munitas dapat terbuka terhadap segala hal; dan (3) fraternity, hubungan
yang terbentuk antar-anggota dalam komunitas tersebut. Sementara itu,
Tambyah (1996) mengidentifikasi tiga karakteristik atau dimensi dari
adanya internet: (1) space/time compression, di mana internet memung-
kinkan seseorang untuk berkomunikasi dengan cepat meskipun berada
di tempat yang berbeda; (2) no sense of place, interkasi yang terjadi di
dunia yang menyediakan konsep anonimitas, yang memungkinkan
354

