Page 42 - index
P. 42

Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer

                Ketiga, teori kritis. Teori kritis merupakan produk dari para pemikir
            Neo-Marxis Jerman yang mulai menyadari keterbatasan teori Marxian
            klasik dalam memahami perubahan realitas sosial yang makin kompleks
            di era masyarakat modern dan postmodern.  Kendati bertitik tolak dan
            memperoleh ilham dari Karl Marx,  namun perkembangan teori kritis
            kemudian justru melampaui dan bahkan meninggalkan Marx karena
            telaahnya yang makin beragam pada seluk-beluk kehidupan masyara-
        Prenada Media Group
            kat industrial maju, era kapitalisme akhir, dan bahkan masyarakat post-
            industrial. Berbeda dengan masyarakat di era modern yang lebih banyak
            berkaitan dengan persoalan modal dan produksi, masyarakat yang telah
            memasuki era postmodern umumnya lebih banyak berkaitan dengan
            persoalan gaya hidup,  konsumsi,  produk-produk industri budaya,  dan
            persentuhan mereka dengan teknologi informasi yang makin masif. Da-
            lam hal ini, paling tidak ada dua fokus utama yang akan menjadi perha-
            tian teoretisi kritis.
                Pertama, pada proses represi kultural yang dialami individu dalam
            perkembangan industri kapitalisme yang mendominasi,  eksplotatif,
            patriarkis,  dan lain sebagainya,  dan bagaimana individu yang menjadi
            korban perkembangan situasi tersebut merespons dunia di sekitarnya.
            Meski teori kritis bertitik tolak dari teori Marxian,  namun teori kritis
            menukar orientasi teori Marxian yang terlalu menekankan arti penting
            struktur ekonomi dan materialisme menuju ke arah subjektivitas, yakni
            pemahaman tentang elemen-elemen subjektif kehidupan sosial pada
            level individu dan level kultural. Salah satu tema pokok yang dikaji teo-
            retikus kritis yaitu ideologi, yakni suatu sistem gagasan yang sering kali
            palsu dan mengaburkan, yang dihasilkan kelas yang berkuasa (Ritzer &
            Goodman, 2008: 306).
                Kedua, fokus utama teori kritis yaitu minatnya pada dialektika, yak-
            ni memahami realitas sosial sebagai suatu totalitas. Dalam pandangan
            teori kritis, fenomena sosial, tak pelak, akan dipahami tidak dalam ling-
            kup yang parsial semata, tetapi fenomena sosial itu niscaya akan dicoba
            dipahami terkait dengan cakupan historis, dengan struktur sosial yang
            dipahami sebagai entitas global. Teori kritis menolak fokus yang terlalu
            spesiik,  khususnya  sistem  ekonomi.  Pendekatan  teori  kritis  menaruh
            perhatian pada kesalingterkaitan berbagai level realitas sosial—yang



            30
   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47